Usual Storyline

oeuvre

Kopi Luwak

Aromanya khas kuat menyengat, menyeruak rongga hidung, teksturnya terasa lembut saat tersentuh di ujung lidah. Apabila coba dikulum sambil digoyang- goyang dengan lidah menari, lontaran seduhan kopi yang menyentuh sensor- sensor pengecap akan mengeluarkan sensasi rasa mocha di sekujur rongga mulut, dan nikmatnya itu tanpa diselingi pahit yang mengintip ! Aneh sekaligus membahagiakan memang segelas Kopi Luwak hangat ini.

Narasi kenikmatan Kopi Luwak sudah ribuan kali disampaikan secara oral maupun tekstual oleh penikmatnya, namun semua narasi itu hanyalah teater belaka, yang cuma bisa ditonton sebagai pengetahuan, sampai pada saatnya tiba, sang penonton teater berubah statusnya menjadi aktor, langsung menyelami sendiri sensasi Kopi Luwak.

Kopi adalah komoditas perdagangan global, antar benua, yang nilai agregat akumulasinya hanya kalah dibandingkan komoditas minyak mentah ( crude oil). Berharganya kopi karena fungsinya, fungsi yang bahkan sampai menimbulkan candu sensorik konsumennya, dan candu itulah yang mendorong penikmat kopi untuk menyesap kenikmatannya, lagi dan lagi.

coffee_consumption-3

Peta Konsumsi Kopi Penduduk Bumi

Kopi Luwak menjadi populer karena sensasi rasanya yang memang lain dari biasanya Arabika. Biji kopi hasil kepercayaan manusia kepada kinerja spesies lain, yaitu kaum Luwak, memang unik sejak lahirnya. Luwak yang sempat dituduh sebagai hama, ternyata cukup nyaman memilih Arabika daripada Robusta. Arabika yang dagingnya banyak dan bijinya kecil, lebih disukai Luwak daripada Robusta. Rupanya cukup cerdas juga Luwak ini, apa pasal ? Ya karena di sisi neraca perdagangan kopi global, pangsa pasar Arabika memang lebih dominan daripada Robusta, sampai 80% angkanya. Kinerja organ digestif Luwak ini secara langsung memberikan nilai tambah ekonomi, bagi komoditas Arabika, menambah variabel kelangkaan.

Harga Kopi Luwak yang relatif lebih mahal dibandingkan Arabika lain, adalah hasil konstruksi dari narasi para cupper dan konsumen penikmatnya, yang menimbulkan keributan di pasar kopi global, kemudian kelangkaan suplai yang disebabkan oleh belum masifnya kerjasama antara produsen kopi dengan spesies Luwak untuk menjamin stabilitas produksi, serta tentunya pengaturan distribusi yang mengatur agar barang- barang tertentu, tetap susah dicari oleh konsumen, yang sebenarnya sudah resah gelisah penuh gairah, dikompori narasi- narasi di media, tentang sensasi nikmatnya Kopi Luwak hangat.

Saat duduk berdiskusi dengan beberapa kawan, sesekali diselingi bermain musik, di tengah pemukiman penduduk di lereng Gunung Gede Pangrango nan dingin menggigit, Kopi Luwak jadi tambah sensasional. Sembari berpikir soal pengaturan suplainya, agar harga biji Arabika ini tetap bertahan nilainya, dan kalau perlu selalu terkendali juga harganya.

2 comments on “Kopi Luwak

  1. ipitpit
    November 18, 2013

    Highly recommended: Kopi Gayo Aceh and Kopi Sidikalang. Not so famous as Toraja or Luwak coffee, but in taste, for me it has an unique and delicious after taste and aroma, more than Luwak coffee. Especially if you try the original one, of course, in a place where it’s from, Gayo and Sidikalang.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2013 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: