Usual Storyline

oeuvre

Bahasa

Bisa tertawa saat menyaksikan acara televisi dengan Bahasa Inggris, itu adalah kemewahan yang sungguh luar biasa, terutama bagi kalangan yang sudah sekolah sampai perguruan tinggi, dan tetap tak paham Bahasa Inggris. Bagi yang tertawa setelah teks terjemahan tersaji,  sungguh mewah memang bisa tertawa bersama itu.

Begitu juga bagi muslim yang sedang shalat berjamaah, maka akan menangis sedih, saat yang lain mendaras bacaan imam lalu tiba- tiba sesenggukan tersedu- sedan. Tak paham, apa yang sesungguhnya menyebabkan jamaah lain menangis, apakah karena paham bacaan imam, atau bingung saking tak paham sama sekali, namun malu kalau tak ikut menangis, dikira tak menghargai ucapan suci dari Tuhan, yang dibacakan imam, sungguh amatlah menyedihkan.

Syarat komunikasi adalah paham dengan bahasa yang sedang digunakan, antara manusia yang terlibat. Sengotot apapun seorang preman mengancam dengan bahasa umpatan, maka teriakan itu hanyalah angin lalu, bagi sang korban yang tak paham bahasa yang dimaksud, bukan begitu? Begitu juga manakala seorang guru hendak menyampaikan pengetahuan, sengotot apapun guru itu berusaha mengajar, selama bahasa yang digunakan tak sama, tak akan pernah ada kejadian murid tahu apa yang guru maksudkan.

Sehebat apapun pencapaian sains, teknologi, atau ekonomi yang dihasilkan oleh sebuah peradaban, di sebuah negara modern, maka prasyarat awal yang harus dipenuhi adalah pemahaman akan bahasa. Bahasa teks, simbol, dan angka, adalah medium basis, yang menjadi pengantar semua pengetahuan, keterampilan, atau perintah apapun. Mengakses semua pengetahuan baru dimulai dari kemampuan untuk menggunakan bahasa pengantarnya, begitu juga proteksi atas pengetahuan yang sudah ditemukan, dari melindungi bahasa dasar pengantarnya.

Bahasa menampakkan pola pikir, kebiasaan, sifat khusus, atau kecerdasan seseorang. Inilah mengapa seseorang bisa membaca bagaimana level berpikir orang hanya dari cara orang menggunakan bahasa. Makna yang kedua ini berhubungan dengan tata bahasa dan erat kaitannya dengan ketertiban memegang kaidah bahasa.

Bagaimana mengukur potensi kesuksesan transfer pengetahuan di sekolah, maka kita lihat dulu peta penggunaan bahasa sehari- hari di Indonesia:

indonesia_ethno_1972

Peta Etnolinguistik Indonesia

Dari peta etnolinguistik di atas, dapat dipahami bahwa untuk melakukan transfer pengetahuan dasar, semisal bahasa dan matematika pun, kondisi di Indonesia, dengan beragamnya suku- bangsa yang mendiami pulau- pulau terpisah, menjadi tantangan yang menarik. Kita belum bicara soal logika dan dialektika, kita masih bicara soal distribusi bahasa pengantar formalnya, itu dulu.

Sebenarnya belajar bahasa itu awalnya dimulai dari motivasi untuk bertahan hidup dalam petualangan beda dunia, karena prasyarat mampu berkomunikasi dengan peradaban asing, adalah mampu beradaptasi, diterima dengan baik oleh orang- orang asing tadi, dan pertama yang paling mudah untuk dipelajari adalah bahasa asing.

Bagi anak- anak muda yang sejak kecil ditantang untuk bertualang, mengarungi ketidakpastian hidup, di setiap belahan bumi yang berbeda sekaligus asing, maka keinginan untuk mempelajari bahasa baru, dan lalu terbiasa menggunakan bahasa itu, adalah sebuah kemampuan yang mengasyikkan untuk dikuasai, percayalah.

Pendidikan formal di sekolah, entah kenapa memposisikan bahasa sebagai pelajaran yang tidak penting, tidak sepenting pengetahuan lain. Padahal dengan mendalami dialektika bahasa dan logika matematika, maka pondasi ilmu pengetahuan lain akan jauh lebih kokoh, bukan berbasis pada hapalan rumus semata, tapi lebih ke observasi pola dan kelenturan menghadapi perubahan masalah.

Jikalau anak- anak muda terdidik pendidikan dasar meremehkan kemampuan dialektika bahasa, dan menganggap logika matematika adalah momok menakutkan, maka hancurlah sudah bangunan peradaban kita. Karena apapun pengetahuan yang akan ditumpukkan di lemahnya dialektika bahasa dan logika matematika, hanya akan menjadikan pemiliknya pembebek, penghapal, serta kuli jahit tanpa orisinalitas ide, percayalah.

Kemampuan untuk menguasai bahasa internasional, entah itu Inggris, Cina, Arab, Spanyol, Jerman, Jepang atau Perancis sekalipun, akan sangat membantu untuk mengakses budaya, pengetahuan, dan mempermudah usaha saling kenal, bekerjasama. Bukan soal mudah atau susahnya, jika sudah punya keinginan, maka setiap kemampuan pasti bisa diusahakan untuk dikuasai.

Berikut adalah peta penggunaan bahasa di bumi:

Primary_Human_Language_Families_Map

Keluarga Bahasa Primer Manusia Bumi

Saat ini internet sudah menjadi fasilitas sehari- hari yang mudah ditemui, tapi apakah manusia Indonesia mampu dengan senang hati mengoperasikannya? Berikut adalah bahasa dominan yang digunakan dalam dunia maya:

WebsitesByLanguagePieChart.svg

Bahasa Konten Dunia Maya

Pengetahuan, segala informasi berseliweran dengan dahsyatnya di dunia maya, begitu juga dengan pilihan- pilihan kemampuan yang bisa kita raih, lalu apa peluang besar ini mampu kita fungsikan? Maka kuasailah bahasanya, karena sekali lagi, petualangan- petualangan itu butuh alat adaptasi, dan alat termudah adalah bahasa.

Sebenarnya peta bahasa dunia maya tidak menunjukkan  jumlah pengguna riil untuk kehidupan nyata, karena di kehidupan nyata sehari- hari, bahasa yang paling banyak digunakan adalah Bahasa Mandarin, bukan Bahasa Inggris. Berikut adalah daftar bahasa- bahasa di dunia, sesuai dengan jumlah manusia yang menggunakan untuk berkomunikasi sehari- hari, baik oral maupun tekstual:

Most Spoken Language 2

Bahasa Bumi Sesuai Jumlah Pengguna

Sebenarnya, kalau ditilik dari daftar di atas, pengguna Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia jumlahnya tidak sedikit, bayangkan penduduk Indonesia itu 200 juta, terbanyak urutan keempat di bumi. Tapi kenapa penduduk Indonesia nampak tidak berkontribusi signifikan, dibandingkan dengan pengguna Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, di dunia maya? Maka itu sekali lagi, kembalikan ke kualitas pendidikan formal di negara kita, soal kemampuan dialektika bahasa dan logika matematika. Kenapa keduanya? Karena membiasakan membangun konstruksi teks membutuhkan dua kemampuan dasar tersebut.

Jadi, mari belajar bahasa, karena masih banyak manusia berbahasa asing yang sebaiknya kita kenal, dan wilayah bumi yang seyogyanya kita jelajahi.

Ini soal petualangan dan beradaptasi Saudaraku, hidup terlalu pendek untuk dinikmati di dalam ruangan, percayalah.

Catatan :

Homo sapiens ( manusia) sebenarnya punya potensi untuk mampu berkomunikasi dengan spesies lain, kapasitas kecerdasan kita masih besar potensinya untuk digali dan  dikembangkan. Jika Saudara punya peluang untuk bisa berkomunikasi dengan anjing, babi, atau monyet, yang notabene beda spesies, maka menguasai bahasa sesama spesies seharusnya membutuhkan usaha yang tak lebih berat, percayalah.

Berikut profil Sosrokartono, salah satu polyglot yang pernah dimiliki Indonesia.

4 comments on “Bahasa

  1. risangbaskara
    October 13, 2013

    Reblogged this on risangbaskara.

  2. makhluklemah
    October 13, 2013

    Di catatan terakhir, menjadikan aku mempunyai teman sepemikiran bahwa manusia memiliki potensi utk berkomunikasi dengan spesies lain di bumi ini.😀

    Tulisan yang bagus kawan..

  3. Ismail Sunni
    November 26, 2013

    Di Korea Selatan, Google kalah saing dengan produk lokal, namanya Naver, soalnya, mayoritas orang korea ndak bisa bahasa inggris dan cenderung ndak pengen menggunakan bahasa inggris. Efeknya, jelas, domain informasi yang bisa diakses juga sempit. Tapi, efek positifnya, mereka jadi “terpaksa” membuat “produk” sendiri, yang ternyata bisa dipakai di negara lain. Jadilah eksportir. Mungkin berlaku juga untuk Jepang dan Cina.

    Lha kalau Arab (dan tetangganya) kan jualan minyak, jadi ndak perlu meng-custom bahasanya.

    Di Cina juga, Baidu juga berjaya.

    Tapi belajar bahasa memang susah sih, apalagi kalau tidak tinggal di wilayah yg jarang menggunakannya (4tahun di bandung ndak membuat saya bisa bahasa Sunda). Investasi yang mahal. Butuh motivasi diri yang lebih.

    *imho, saya pernah belajar Turki, Jerman, dan tinggal debunya saja T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 11, 2013 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: