Usual Storyline

oeuvre

Kartu As Kurusetra

Krisna, sang mahadewa yang merendah untuk menjadi kusir ksatria Arjuna, adalah pihak tak terlihat yang menentukan jalannya perang saudara, perang antar sesama keturunan Bharata, di Padang Kuru ( Kurusetra).

Perang Bharata sangat bisa berbeda dari yang disampaikan dalam Epos Mahabharata, jika Krisna tak ikut campur tangan dalam skenarionya. Ada beberapa tokoh- tokoh lakon yang sengaja dibuat lemah, dan dihilangkan dari skenario, karena keberadaan mereka dalam perang besar tersebut, akan sangat menentukan jalannya cerita, dan tentunya hasil akhir dari perang turunan dua raja bersaudara, Pandu dan Dhestarastra itu.

SB Family Tree03

Tokoh semacam Bhisma ( Dewabrata), Baladewa ( Balarama), serta dua bersaudara Antareja dan Antasena, putra Bima ( Bratasena), adalah beberapa tokoh kunci yang dilemahkan, dialihkan, dan dimatikan secara sengaja oleh Krisna, agar tidak mengganggu skenario lakon versinya.

Dalam konflik yang melibatkan banyak orang, seringkali justru pihak- pihak terkuat adalah pihak yang paling sulit untuk diprovokasi, dan paling enggan untuk terlibat secara sentimentil dalam konflik berkepanjangan, mereka paham konsekuensi kerusakan dalam konflik.

Orang- orang kuat yang tak mau terlihat namun menentukan hasil konflik, seringkali hadir sebagai juru damai, atau terlibat namun mempercepat konflik berakhir, dan itu sungguh menyebalkan bagi penonton konflik, yang ingin selalu ada drama hiperbolik berkepanjangan, sehingga nikmat disaksikan, serta tentunya banyak darah tertumpah ke bumi.

Bhisma Sang Ksatria Pertapa

Bhisma, sang kekasih para dewa ( Dewabrata), adalah jenderal perang terkuat yang paling sukar dikalahkan oleh militer Pandawa. Dia yang sebenarnya adalah kakek guru dari Kurawa dan Pandawa adalah ksatria bergaya hidup bak rahib, mistikus kerajaan, benteng utama kekuasaan politik Hastinapura, sekaligus pimpinan perang terlama dalam setiap laga kontak senjata di Kurusetra, jauh melampau Resi Durna, Adipati Karna, dan Prabu Salya, yang akan menggantikan di posisi itu setelahnya.

Bhisma dilemahkan dengan strategi ideologis, bukan dengan bentrokal frontal antar kombatan. Dalam kasus Perang Bharata, militer Pandawa cukup paham bahwa melawan pasukan pimpinan Bhisma secara frontal, sangat kecil peluangnya untuk mampu menang.  Bhisma dilemahkan dengan janji masa lalunya, janji yang melahirkan kutukan Dewi Amba, sebuah kelemahan halus sekaligus bukti kekuatan Bhisma terhadap komitmennya sendiri, untuk sama sekali tidak akan menikah, dan membaktikan dirinya untuk membela tahta Hastinapura.

Bhisma dialihkan fokusnya dari perang, pada sumpah masa lalunya, serta rasa bersalah atas kematian Dewi Amba, ketika Arjuna membawa serta istrinya, Srikandi, dalam perang divisi kavaleri Pandawa lawan Kurawa.  Srikandi yang juga titisan Dewi Amba membawa sinyal kuat, bahwa sudah saatnya Bhisma pensiun berlaga, menyerahkan nyawa pada cucunya, Arjuna.  Bhisma yang membuka pertahanan diri, membuat Arjuna bebas menyerangnya dengan anak panah bertubi- tubi, menembus tubuh renta namun perkasa itu.

Bhisma roboh ke bumi namun tidak bisa mati, Bhisma adalah kekasih dewa yang diizinkan untuk memilih sendiri waktu kematiannya.  Putra Sentanu dengan Dewi Gangga ini pun berbaring  dengan tumpuan anak panah, memperhatikan jalannya Perang Bharata di Padang Kuru dari kejauhan, sambil sesekali bertemu dengan cucunya  Yudhistira serta Duryodana, untuk berdiskusi tentang tata negara Hastinapura. Bhisma meninggal dunia ketika Perang Bharata juga berakhir, kembali ke sisi kekasihnya, para dewata di nirwana swargaloka.

Baladewa Ksatria Apolitis

Baladewa, atau nama lainnya Balarama, putra Basudewa, adalah saudara kandung dari Krisna sendiri.  Baladewa bisa diibaratkan sama kesaktiannya dengan Krisna, the one man army. Eksistensi dia dalam Perang Bharatayudha akan sangat menentukan jalannya cerita, seperti halnya Bhisma, tapi dari sisi yang lebih ekstrem dan sangat brutal pastinya.

Baladewa dari sisi jalinan keluarga atas pernikahan, akan membela pihak Kurawa, menjadi lawan tanding sepadan dengan Krisna, yang menjadi kusir Arjuna, salah satu panglima utama Pandawa. Posisi Baladewa akan membuat peta perang menjadi seimbang, dan dengan Bhisma juga di sisi Kurawa, bisa jadi mereka jauh lebih superior secara materi kombatan organik, dibanding Pandawa.

Baladewa secara kepribadian adalah ksatria yang tak suka bermain intrik politik kekuasaan, dia adalah orang berkarakter kuat yang sangat independen, dan netralitasnya sangat bergantung pada ikatan persaudaraan, bukan kepentingan politik kelompok. Jadi jikalaupun Baladewa melibatkan diri dalam Perang Bharatayudha, maka bisa dipastikan motifnya adalah membela saudara, bukan soal kepentingan politik Hastinapura.

Sisi independensi sekaligus keberpihakan sejati Baladewa pada keluarga dan saudara, adalah sisi kuat, sekaligus sisi terlemahnya. Krisna mengalihkan Baladewa dari potensi untuk terlibat ke dalam Perang Bharatayudha, dan memerintahkan saudara terkasihnya itu untuk bertapa di air terjun, demi urusan lain yang jauh lebih penting.

Baladewa sama sekali tak tahu ada konflik senjata terbuka di Padang Kuru, dia baru mengetahuinya ketika semua sudah berakhir, terlambat sudah. Lakon Bharatayudha pun terjadi tanpa melibatkan sama sekali salah satu tokoh terkuat, sahabat para dewa, saudara kandung Mahadewa Krisna, ksatria apolitis, bernama Baladewa.

Antareja- Antasena Ksatria Senyap

Antareja dan Antasena adalah putra kandung Bima, dari istrinya Nagagini. Dalam epik versi India, kedua ksatria muda ini tak disebut, hanya Gatotkaca yang sering dinarasikan. Antareja adalah ksatria muda yang mampu menembus bumi, sedangkan Antasena adalah ksatria muda saudara kandungnya, yang hidupnya di dalam samudera luas, serta jika dia menjilat bekas telapak kaki lawan dengan lidah ularnya, maka lawannya itu akan tewas seketika, tanpa peringatan.

Dalam matra militer, Gatotkaca yang mampu terbang adalah penguasa matra angkasa, Antareja yang mampu menembus bumi adalah matra darat, dan Antasena yang mampu  hidup di dalamnya samudera, adalah penguasa matra laut. Jika ketiganya disatukan, maka sukar dibayangkanya betapa efektifnya kekuatan militer organik Pandawa.

Gatotkaca, Antareja, dan Antasena adalah generasi ksatria junior, di bawah komando orang tua mereka, mereka adalah senjata pembunuh yang sangat efektif untuk mematikan. Krisna hanya mengizinkan Gatotkaca untuk ikut serta terjun dalam  perang berdarah ini. Antareja dan Antasena dimatikan oleh Krisna, menjelang Perang Bharatayudha dimulai. Kedua bersaudara putra kesayangan Bima itu sama sekali tak tercatat dalam daftar kombatan organik Pandawa.

Antareja dan Antasena ibarat pasukan khusus, pemukul efektif dan efisien yang bergerak lincah dalam satuan kecil, tak terlihat lawan, diterjunkan di barisan belakang musuh, untuk memberi efek kejut dan sekaligus meruntuhkan moral lawan. Skenario awalnya, Gatotkaca terbang di atas untuk mengalihkan perhatian, lalu Antareja menggendong saudaranya Antasena menembus bumi, menyelinap masuk ke bagian paling belakang Serdadu Kurawa.  Sesampainya di barisan belakang lawan, maka Antasena akan menjilat semua bekas telapak kaki Serdadu Kurawa, dan serentak matilah mereka semua, sungguh pembunuhan massal yang sangat efektif, sekaligus efisien.

Bisa dibayangkan, bahwa jika Antareja dan Antasena benar- benar terjun ke Perang Bharatayudha, maka korban sangat bisa diminimalkan,kalau perlu semua dari pihak lawan. Bahkan sebelum terjadi kontak senjata pun, semua lawan bisa rontok serempak bergelimpangan, tewas seketika di tempat mereka berdiri.

Namun, sekali lagi, penonton butuh drama hiperbolik penuh darah bertumpahan. Jika Antareja dan Antasena benar ikut diterjunkan bersama saudara mereka, Gatotkaca, ke dalam konflik bersenjata Bharatayudha, maka perang itu akan berhenti segera, tak sampai berlarut- larut dengan dramatis.

Kredo Kaum Ksatria

Kredo ksatria atau para samurai yang menghendaki semua pertarungan selalu dalam posisi berhadapan frontal, adalah kredo idealistik terbatas. Dalam realitanya, selalu ada pasukan khusus atau para ninja, yang membunuh tanpa perlu ada pertarungan, ya karena mereka memang pembunuh, bukan petarung, dan sangat efektif membunuh tanpa perlu harus capek bertarung.

Narasi dongeng dan epos yang mengagungkan posisi ksatria seringkali menghilangkan narasi intrik dan strategi lapangan, dimana sisi kekuatan adalah sekaligus sisi kelemahan manusia. Selalu ada orang- orang kuat yang sengaja dilemahkan, dialihkan perhatiannya, dan dimatikan, dengan memanfaatkan sisi lemahnya.

Kehidupan manusia saat berinteraksi dengan manusia lain ibarat sebuah permainan kartu, entah dalam kondisi damai maupun perang, selalu saja ada kartu yang dimainkan dan disimpan, tergantung pada strategi kita masing- masing, dan kepentingan kita terkait manusia lain. Epos Mahabharata adalah narasi menarik yang sarat dengan hikmah kebijaksanaan manusia masa lalu, mempelajarinya kembali adalah aksi yang menarik untuk diperbuat.

Kebenaran pada sejatinya adalah milik Tuhan semata, manusia hanya mampu menafsirkan kebenaran. Pada akhirnya kita akan bertanya langsung kepada Sang Pemilik kebenaran sejati, untuk mengetahui lurus bengkoknya tafsiran kita, atas kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 28, 2013 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: