Usual Storyline

oeuvre

Arus Balik

Narasi dan aksi, cuma dua itu saja yang membedakan spesies manusia dengan spesies lain penghuni Planet Bumi. Soal spesies manusia membikin negara, dan lalu saling bunuh, itu semua kemauan manusia sendiri, membuat rumit kehidupan yang harusnya damai saja.

Soal perubahan warna kulit, postur tubuh, anatomi fisik ( fenotip), itu pengaruh iklim, atmosfer, dan makanan yang dimakan, manusia itu dipengaruhi Bumi, tidak sebaliknya, jadi tak perlu merasa superior dibanding spesies lain juga, tahu dirilah manusia itu harusnya, kita itu saling membutuhkan di ekosistem Bumi ini.

Narasi sejarah globalisasi ekonomi yang masuk ke anak sekolah di Indonesia, lewat kurikulum formal bikinan negara, secara implisit menunjukkan bahwa relasi perdagangan antara peradaban di nusantara ( Austronesia- Sundaland) dengan peradaban di benua lain ( Afrikaan, Eurasia, Amerika) bisa terjadi karena bantuan ras kulit putih. Seolah sebelum perjanjian Tordesillas dan Saragosa, yang dibuat kulit putih Lusitanian ( sekarang Negara Portugis) dan Hispanian ( sekarang Negara Spanyol), manusia di peradaban Sundaland- Austronesia sama sekali tak terlibat dalam perdagangan global antar benua, seolah manusia kulit putih dari utara, orang- orang Lusitanian ( Portugis), Hispanian ( Spanyol), Anglo ( Inggris), Nederland (Belanda), lebih superior dibanding orang- orang kulit coklat terang atau coklat gelap, berambut keriting, di selatan, yang posturnya lebih kecil dan (mungkin) otaknya lebih kecil juga.

Narasi resmi kumpulan sejarawan yang masuk kurikulum sekolah itu usianya baru 6000 tahun,tepatnya dimulai saat Sumeria berdiri megah sekitar 3890 sebelum masehi, jika dihitung tahun depan 2014 Bumi belum hancur, berarti usia narasi sejarah manusia yang sempat tercatat memang angkanya baru 6000-an tahun. Sedangkan catatan sejarah lain, sejarah mTDNA manusia dan sejarah fosil Homo sapiens, menunjukkan usia manusia modern 200,000 tahun, setidaknya kalau anak sekolah makan benar itu narasi di buku sejarah sekaligus makalah biologi terbaru, akan kaget karena ada 194,000 tahun usia narasi sejarah manusia yang tidak ada artefak narasinya, itu terus mau apa?

Saat Richard Leakey melakukan observasi paleontologi mencari manusia pertama, dan dia menemukan bahwa di Kenya adalah tempat dengan probabilitas tertinggi manusia pertama lahir, aristokrat kulit putih di Eropa yang jadi sponsor risetnya pun seolah tak terima. Bagaimana bisa, manusia kulit hitam yang selama ini direndahkan secara sosial- ekonomi- budaya, adalah nenek moyang manusia modern yang begitu adiluhung?

Silk_route

Biru: Rute Perdagangan Rempah& Merah: Rute Perdagangan Sutra

Perdagangan global itu relasinya dengan adanya perbedaan kapasitas panen sebuah teritori, sehingga terjadi beda kapasitas permintaan dan penawaran komoditas makanan primer. Sebuah teritori kapasitas panennya sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Maka jika deduksi bahwa benua yang terletak di ekuator adalah teritorial paling produktif pertaniannya, dibanding teritori di luar ekuator, itu lebih ke urusan produktivitas lahan.

Daerah di luar garis ekuator dengan sinar matahari penuh sepanjang tahun, oleh anak sekolah disebutnya Tropis, dan di luar itu disebutnya Sub Tropis dan Boreal, dekat kutub yang sinar mataharinya tak penuh selama satu tahun. Manusia yang memilih hidup di teritori tropis bisa panen 4 sampai 6 kali setahun, sedangkan manusia yang hidup di teritori subtropis cuma bisa panen maksimal 2 kali dalam setahun, karena sinar matahari memanasi mereka setahun cuma 4 bulan.

500px-800px-tropical_wet_forests

Sabuk Hutan Hujan Bumi, Teritori Ekuatorial

Jadi jika Ramses raja Mesir, era 2000-an sebelum masehi, itu memesan kapur pengawet mumi ke Barus dan kemenyan ( Styrax) di wilayah Sundaland ( sekarang jadi wilayah Sumatera Utara, Negara Indonesia), Idris, yang katanya nabi utusan Tuhan itu, sempat mampir membeli kayu manis dan pala di belahan bumi Selatan ( Book of Enoch),  Sulaiman melapisi tabutnya dengan emas dari Ophir ( sekarang Sumatera Barat, Negara Indonesia), atau metode meditasi Biarawan Tibet sama hampir mirip dengan kebatinan ala Subud Jawa, itu sudah jauh- jauh hari terjadi, jauh sebelum Jendral- jendral cum direktur perusahaan multinasional VOC berebut membeli konsesi cengkeh, pala, kayu manis, dan temulawak ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Maluku.

MaritimeSpiceRoutes

Rute Perdagangan Global Rempah ( Globalisasi Ekonomi Rempah) Jalur Laut

Jangan terkaget- kaget kalau kemudian ada jurnalis atau periset yang menulis di media populer, bahwa perdagangan global sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lampau, jauh sebelum WTO terbentuk sekarang. Ya karena memang begitu kondisinya sejak dulu, cuma memang narasi itu tak banyak yang tahu, atau yang tahu sengaja bungkam sehingga kebanyakan orang jadi tak paham.

Manusia berkulit pucat berambut jagung itupun terpaksa memotong jalur laut lewat Tanjung Harapan, Afrika juga karena diputus jalur dagangnya oleh manusia- manusia berkulit putih susu,berambut hitam, di peradaban Arabia, karena sentimen beda Tuhan katanya. Orang- orang di peradaban Arabia itupun bisa terbentuk pasar juga karena mereka ada di jalur strategis sutra dari Asia Utara berkulit kuning ( sekarang Republik Rakyat Cina) dan jalur mata rantai suplai rempah bumbu dari manusia peradaban Asia Tenggara, yang berkulit coklat ( sekarang jadi Malaysia, Indonesia, dan Indocina).

Manusia berkulit susu berambut hitam itu lumayan blunder juga, ketika jalur dagang dari Selatan dipotong, ekonomi mereka mati, mereka akan hidup bukan dari perdagangan global, tapi cuma dari oase padang pasir, pertanian, dan ternak Onta. Teritorial di perbatasan Asia, Eropa, dan Afrika, atau Bulan Sabit Subur ( Levantine) ini baru bisa terlibat perdagangan global dalam skala raksasa lagi, ketika ditemukan minyak bumi tahun 1930-an untuk bahan bakar mesin, dan sekarang manusianya bisa bikin negara Saudi, UEA, serta negara manusia Ras Arab lain.

Perdagangan global komoditas barang antar benua, antar ras, lewat laut maupun lewat darat, selalu menghasilkan inovasi- inovasi alat tukar dan metode transaksi. Dalam rentang waktu ribuan tahun, dihasilkan metode hutang, uang, metode pembayaran, pembungaan alat transaksi untuk permodalan, sampai ke metode bagi hasil- bagi resiko buat permodalan.

Jangan heran kalau di narasi ekonomi dan moneter global, muncul nama- nama yang disebut nabi dalam beberapa agama, ada Ibrahim/ Avram/ Abraham/ Brahma, Musa/ Moses, Sulaiman/ Solomon, Iysa/Isa/Yasua/, dan Muhammad/ Mohammed, sebagai orang- orang yang terlibat dalam sistem alat transaksi dan metode permodalan, karena memang uang, ekonomi, selalu terkait dengan standar moralitas hidup manusia, sama sekali bukan kebetulan.

Perang Dunia I dan Perang Dunia II itu juga perebutan kuota hutang global, narasi sejarah di sekolah selalu cuma fokus di pertarungan ideologi, dan drama tempur antar serdadu. Tapi soal pasca perang, ketika negara pemenang dapat kuota kredit lebih besar, dan memungkinkan mereka membangun sekolah bagus, industri kuat, pasar kuat, sehingga riset teknologi- sains, industrial kompleks, militer, serta daya beli konsumen negara- negara tersebut lebih superior, malah jarang dibahas ya.

Ya manusia sih dari dulu sebenarnya juga sudah saling berdagang, saling berhutang, kawin mawin antar ras, cuma narasi teks seringkali dibuat ada yang lebih dominan, ada yang lebih superior secara peran relasi antar manusia. Tapi kan catatan DNA tak akan bohong, fosil pun susah dibohongi. Apalagi jejak- jejak material lain yang bisa mendukung bahwa manusia sudah kenal satu sama lain sejak mulai tersebar antar benua.

Narasi manusia bisa sangat manipulatif, karena cuma spesies manusia yang bisa literasi baca tulis, spesies lain semacam anjing, babi, atau kecoak tak bisa. Kita bisa seenak jidat menulis sejarah kita sendiri, merasa lebih superior dan mendominasi sesama manusia dan spesies lain.

Tapi anehnya, selalu ada momentum peradaban itu lahir dan tenggelam, selalu peradaban yang superior merasa sudah paling maju dan kuat, dan selalu ada momentum hancur digantikan peradaban lain, dan itu biasanya awalnya ya ulah si manusia sendiri, perutnya selalu kurang, kelaminnya selalu minta ejakulasi berulang, tak lebih dari dua organ tubuh itu, lambung dan kelamin.

Urusan perdagangan global, hubungan pasar komoditas, pasar uang, pasar modal, dengan superioritas lembaga pendidikan dan narasi sejarah yang terpotong ini, akibat langsungnya ke perluasan pasar dan transfer mispricing, metode pelarian arus kas dari negara miskin berkembang, ke negara kaya, itu selalu begitu modusnya sih, mau bagaimana lagi? Sayang kalau tak paham itu, dimaling melulu, dan menikmati pula dimalingnya.

Kalau Pramoedya Ananta Toer dengan indahnya menceritakan Arus Balik peradaban, manusia utara yang lalu menggantikan dominasi manusia selatan, maka itu bukanlah sebuah dramatisasi yang dibuat- buat, itu adalah sebuah rekam jejak peradaban manusia bumi yang dibuat novel metaforik, walaupun memang jadinya pembaca cuma menangkap sisi dramanya sih ya? Aduh sayang sekali.

Manusia ya begitu saja narasinya sih, mau dagang sebesar apapun, ke siapapun.” A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within“, kata Eyang Will Durant.

3 comments on “Arus Balik

  1. gimana ternyata kalau semua narasi yang dibikin manusia itu palsu belaka? tau darimana juga yang ini benar fakta dan yang itu bukan?

    karna bukti juga bisa dibikin manusia :p

    • Maximillian
      December 12, 2013

      Manusia itu manipulatif, kalau tidak manipulatif belum jadi manusia namanya.

  2. sunarno2010
    December 14, 2013

    manusia ekuator banyak memproduksi produk makanan, manusia daerah dingin banyak mengkonsumsi makanan terjadilah ekspor impor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 9, 2013 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: