Usual Storyline

oeuvre

Sentimen Uang

Uang itu tidak penting, sama sekali tak penting, karena manusia bisa bahagia dengan cinta dan perhatian dari sesama, bukan begitu, Kawan? Manusia bisa hidup tanpa uang, bisa makan daun dan binatang, seperti nenek moyang kita, para pemburu dan pengumpul, yang bisa membangun struktur sosial sehat bahagia berbudaya, tanpa sistem transaksional dengan uang.

Narasi di atas itu sangat puitik, platonik, terasa manusiawi, dan bakalan laku terbeli, jika ditulis jadi basis novel yang lalu dijual ke pasar segmen sastra pop, coba deh. Bertahan hidup subsisten, bergaya ala pemburu dan pengumpul butuh adaptasi lagi, percayalah secara komunal akan butuh lebih banyak manusia mati, berusaha menyesuaikan diri dengan sistem baru tersebut, sistem tanpa uang sebagai alat transaksi barang dan jasa, demi meraih kebahagiaan dengan cinta serta perhatian sesama.

Uang bisa digunakan sebagai alat transaksi, karena pelaku transaksinya percaya dengan uang itu, jadi memang basis transaksi itu adalah kepercayaan sesama manusia. Untuk membangun kepercayaan atas uang secara serempak bersamaan dalam sebuah populasi manusia, maka selalu ada otoritas yang memberi legitimasi, itulah penguasa.

Maka jika legitimasi uang juga sebanding dengan otorisasi penguasa, logika premis bisa dipertanyakan ulang, apakah uang bisa jadi alat transaksi publik karena ada otoritas penguasa yang melegitimasi, atau kebalikannya, otoritas penguasa punya legitimasi selama uang yang telah diresmikan masih dipercaya publik sebagai alat transaksi di pasar?

Alat transaksi bisa berupa kerang, kayu, emas, perak, platina, bahkan plastik fiber yang diinjeksi angka virtual, ini bukan soal bahan atau kelangkaan sumber daya, tapi soal legitimasi otoritas penguasa dan kepercayaan komunal pelaku pasar, yang semuanya manusia biasa juga. Kelangkaan bisa dibuat, percayalah, dan itu sangat mudah bagi manusia yang diposisikan sebagai otoritas penguasa, jadi kelangkaan bahan baku bukan syarat primer terbentuknya uang sebagai alat transaksi.

Aset

Lalu, apa hubungan status sosial lebih kaya atau lebih miskin dengan kepemilikan volume uang? Karena uang ternyata juga bertambah fungsinya selain sebagai alat transaksi, ke alat nilai dan alat penyimpan kekayaan. Fungsi kedua dan ketiga inilah, yang membuat status lebih kaya dan lebih miskin berubah antar zaman.

Kepemilikan aset berupa faktor produksi, yaitu tanah, mesin, dan pekerja atau budak, bisa menjadi ukuran kekayaan seorang manusia, tapi bisa juga di sisi lain, ada manusia bertampilan gembel model gelandangan, berbaju compang camping, rumah pun mengontrak di kompleks gang, dan kemana- mana naik kendaraan umum kelas ekonomi, punya angka di rekening yang nilainya jauh melebihi nilai aset jenis manusia pertama.

Soal uang ini memang merepotkan, sekaligus menarik dipelajari, bagaimana interaksi antar manusia bisa berubah dari aliansi menjadi segregasi karena sentimen negatif atau positif atas kepemilikan uang, berikut konsekuensinya. Jika variabelnya berhenti di sentimen negatif, itu tak akan jadi perang saling bunuh, tapi urusannya akan lain, jika ternyata kepemilikan uang juga berpengaruh ke peluang untuk mendapatkan fasilitas penjamin kehidupan minimum layak, semacam kesehatan, pendidikan, dan bahan makanan primer.

1511541_398743690259807_1185377819_n

Peta Global Kekayaan ( Pendapatan Perkapita) , Credit Suisse 2013

Di wilayah tanah yang tandus dan tak cukup humus, yang berarti lemah di faktor produksi alamiah, maka kepemilikan angka di rekening sangat berpengaruh ke layak tidaknya kehidupan manusia. Dengan angka di rekening, manusia bisa membangun fasilitas penyedia air bersih, media hidroponik supaya bisa panen enam kali setahun, energi pemanas bertenaga surya, dan tentunya menggaji pekerja profesional untuk menggerakkan mesin ekonomi jangka panjang, serta petugas medis dan keamanan swasta, yang menjamin standar kesehatan serta keamanan jiwa.

main-qimg-63fe8c51a5b26f356c1352c551214f86

Perbandingan Luas Benua Afrika

Uang sebagai alat transaksi pada hakekatnya adalah surat hutang, sesuai nilai yang tertera disitu. Surat hutang dari siapa kepada siapa, piutang itu untuk siapa dari siapa, itu yang akan menentukan nilai pentingnya kepercayaan pada alat transaksi. Fungsi uang yang bertambah menjadi alat nilai dan penyimpan kekayaan ternyata mendorong sisi kecerdasan manusia lain, yaitu menumpuk uang untuk mempermudah perolehan lain, yaitu menguasai aset, atau menguasai manusia lain.

Manusianya sendiri yang memanfaatkan fungsi uang tersebut untuk membuat drama- drama baru di hubungan sosial dengan sesama manusia, entah itu perang, perdamaian, aliansi, segregasi, alienasi, apapun skenario bisa dibuat, dan pelibatan uang sebagai instrumen transaksi jelas akan sangat memudahkan operasi skenario itu.

Sentimen atas uang bisa negatif atau positif, kembali ke fungsi uang itu digunakan untuk apa, dan bagaimana peluang distribusi memperoleh uang bisa terbentuk dalam komunitas manusia yang menggunakan uang sebagai alat transaksi, dan tentunya alat penilai dan penyimpan kekayaan.

Kelompok Manusia 

Dalam skala kelompok, misal contoh ada dua kelompok manusia, masing- masing satu peleton, 50 orang, dan satu kompi, 250 orang. Peleton 50 orang bikin perusahaan bermodal patungan dengan modal 1 miliar, dan pada akhir tahun pertama menghasilkan omzet 2 miliar, keuntungan bersihnya 1 miliar atau 100% dari modal awal. Kompi 250 orang bikin perusahaan juga, modalnya patungan juga, terkumpul 1 miliar, dan pada akhir tahun pertama menghasilkan omzet 3 miliar, keuntungan bersihnya 2 miliar atau 200% dari modal awalnya. Secara produk domestik bruto kompi lebih unggul, namun secara pendapatan perkapita peleton lebih makmur, karena margin keuntungan dibagi lagi perorang, ini murni soal aritmetika sederhana.

Jika dalam peleton dan kompi itu dibagi rata keuntungan, maka anggota peleton perorang punya keuntungan sebesar 20 juta. Lalu dalam kompi perorang punya keuntungan sebesar 8 juta. Secara kelompok kompi lebih kaya, tapi secara perorangan peleton lebih makmur. Anggota peleton punya daya beli lebih secara personal, namun kompi punya daya beli lebih jika mau bergerak dalam kelompok.

Population and Wealth 2011

Distribusi Kekayaan ( World Bank 2012)

Bahasa sederhananya, anggota peleton lebih kaya daripada anggota kompi, dan kompi lebih kaya daripada peleton. Jika anggota peleton dan anggota kompi bertemu di pasar di luar barak, dengan mata uang yang sama, anggota peleton punya daya beli lebih tinggi daripada anggota kompi. Peluang gaya hidup anggota peleton akan lebih berwarna dibanding anggota kompi, karena dengan uang itu mereka bisa membeli varian barang dan jasa lebih besar. Namun itu juga akan beda jika kompi bergerak komunal, dan peleton bergerak individual. Keduanya menggunakan sisi kekuatan masing- masing.

Itu narasi sederhana saja, dalam kehidupan sehari- hari urusannya jauh lebih kompleks, benang kusutnya lebih ruwet, dan gesekan awal yang memicu ledakan- ledakan konflik bisa terjadi kapan saja, dimana saja, ketika beda isi dompet terlalu jauh besaran nilainya.

World GDP Percapita Comparison

Daftar Pendapatan Perkapita Tertinggi Dunia

World GDP Comparison

Daftar Produk Domestik Bruto Tertinggi Dunia

Sentimen Kelompok

” Urip mung sawang sinawang”, nasehat lama jawa klasik, kurang lebih maknanya, hidup itu cuma saling mengamati satu sama lain, sesama manusia. Di bumi ini, mungkin cuma spesies kita, manusia, yang gemar saling membandingkan sesama, dan lalu membuat drama sendiri yang membangun atau merusak suasana.

Spesies lain mungkin bersaing juga berebut pasangan kawin atau makanan, tapi bedanya dengan kita adalah mereka punya batasan, kapasitas testis atau produksi telur, dan volume lambung, dan kita tidak punya itu.

Ketiadaan batas kemauan, karena saking cerdasnya kita diberi intelektualitas, itu yang membuat aksi saling mengamati itu berbuah sentimen, bisa negatif atau positif. Manusia memang spesies yang terlalu cerdas untuk berimajinasi, dan terlalu bodoh untuk bisa mengenal batasan.

” Urip mung mampir ngombe “, klasik jawa lagi, yang maknanya kurang lebih hidup itu jangka waktunya pendek, ibarat perjalanan panjang, hidup itu seperti mampir di rest area jalan tol demi minum sebentar saja, karena perjalanan masih jauh. Klise tapi kalau melihat bagaimana romantisnya sastrawan menjual mimpi hidup seribu tahun, usia manusia modern rata- rata 65 tahun, tak sampai 10% dari angan- angan puitik si sastrawan.

Selama 65 tahun itu, 20 tahun untuk belajar teori hidup, 20 tahun menumpuk kekayaan, 20 tahun untuk hidup yang sebenarnya ( katanya orang lazim life begins at 40th), dan 5 tahun bonus untuk bed rest di rumah sakit, panti jompo, atau pikun di rumah.

Catatan, 20 tahun menumpuk kekayaan itu ada dramanya, dengan berjuang menapaki tangga karir dari professional trainee sampai CEO, jangan dibandingkan dengan pemain hedge fund atau ghost financier di offshore banking yang profit sekali transaksi setara dengan 30 tahun gaji CEO perusahaan multinasional, flat tanpa inflasi sudah plus bonus pecahan dividen.

Catatan lagi, para pemain hedge fund internasional dan ghost financier ini benar- benar menggunakan 20 tahun usia pertamanya, untuk belajar hidup, bukan cuma teori- teori di sekolah, atau sibuk tak jelas terbawa politik kantor. Jangan buka rahasia ini, kasihan yang sudah bangga dengan karir, titel akademik, dan kebahagiaan lain karena prestasi hidupnya, tapi tetap kalah fungsi dengan orang- orang hebat yang tak sudi terlihat. Manusia itu saling lihat, kan sudah dibilang tadi.

Proses saling melihat dan saling membandingkan diri, dan lalu timbul sentimen, dan lalu terjadi aliansi, segregasi, atau alienasi, itu ternyata universal, mungkin itu memang patologi khas spesies manusia juga sih. Kredo klasik jawa Urip Mung Sawang Sinawang ternyata diamini juga oleh bule Eropa, atau bule Amerika Serikat, utamanya dalam memandang komunitas negara lain, yang masih terlihat jarak pandangnya. Jadi kalau tak terlihat radar, ya maaf saja, mungkin Anda memang tidak ada nilainya buat yang melihat.

world-according-to-the-united-states-of-america

Dunia Menurut Amerika Serikat

europe-according-to-germany

Eropa Menurut Jerman 2010

europe-according-to-britain

Eropa Menurut Britania Raya 2010

Lalu soal uang? Ya uang cuma alat transaksi saja, tapi karena bakat patologi sentimen gara- gara saling lihat memang sudah ada di DNA manusia, apapun bisa jadi alasan kan?

Catatan:

Sumber Grafis Stereotype

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 31, 2013 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: