Usual Storyline

oeuvre

Kompeni!

Mungkin tidak banyak, atau malah mungkin tidak ada, sekolah bisnis, atau pebisnis mula di Indonesia yang benar- benar mempelajari Kompeni VOC sebagai bahan kajian kewirausahaan. VOC sendiri dikagumi karena menjadi titik balik model kapitalisme modern pada masa Eropa abad pencerahan. Kombinasi antara kekuatan modal swasta, jiwa kewirausahaan yang kuat, inovasi kepemilikan berdasar saham, hingga sinergi dengan kontraktor militer swasta bersenjata berat, yang seolah- olah membalik definisi kekuatan negara dengan kekuatan perusahaan swasta.

Dalam narasi sejarah Indonesia, VOC selalu dijadikan objek antagonis, musuh besar, penjahat sadis, dan pendosa yang nista. Tak banyak, atau mungkin malah tak ada guru di sekolah yang menjelaskan bahwa VOC adalah perusahaan multinasional pertama, yang mencatatkan diri di bursa saham Amsterdam.

Model kinerja operasional VOC, yang sangat membedakannya dengan kolonialisme ala Spanyol dan Portugis sebelumnya, adalah pada model relasi kapital swasta dan manajerial profesional, yang pada abad- abad berikutnya menjadi landasan untuk berdirinya perusahaan- perusahaan multinasional modern.

VOC Private Capital

Model Permodalan ekspansi Spanyol-Portugis, Inggris, & Belanda

Bagi para pebisnis pemula yang paham model operasional VOC, maka mereka akan langsung mampu memahami bahwa batas antara bisnis dengan politik itu sangatlah tipis, bisa dipastikan bahwa setiap pebisnis itu politisi, jago taktik dan strategi, mampu membaca situasi sekaligus memanfaatkan dengan sumber daya yang ada.

VOC sendiri sebenarnya hanya berusaha menguasai rute kuno, jalur perdagangan klasik komoditas rempah, yang sebenarnya sudah terbentuk ribuan tahun sebelumnya, jauh sebelum Abad Pencerahan terbentuk di Eropa daratan. Perdagangan global memang sudah terbentuk ribuan tahun sebelumnya, dan yang menjadi terobosan VOC adalah kemampuan untuk memadukan dengan pasar modal, kesuksesan komersial dan finansial sekaligus.

Banyak jurnal- jurnal ilmiah ekonomi bisnis, dari kampus- kampus terkemuka, yang membahas khusus tentang VOC dan relasinya dengan revolusi kapitalisme global. Anda bisa mengontak admin jika ingin dikirim koleksi jurnal tersebut. Berikut adalah sedikit terjemahan, yang mungkin bisa menggambarkan tentang Kompeni VOC, dari Peter Reynders, aslinya berjudul “ Why did the largest corporation in the world go broke?”, Proyek Guttenberg, Australia.

VOC (  Verenigde Oostindische Compagnie), sebuah nama besar di narasi sejarah ekonomi dunia ini dinyatakan bangkrut pailit, dan ditutup secara resmi pada 14 April 1822. Perusahaan multinasional pertama di dunia ini sempat membangun kejayaan yang mendunia, di sepanjang usia  operasionalnya, 200 tahun.

voc400

400 Tahun VOC, 1602- 2002

Perusahaan multinasional nan digdaya ini bangkrut dengan meninggalkan hutang sebesar 219 miliar gulden, yang kemudian lalu diambil alih oleh Pemerintah Belanda, hingga malah jadi membebani,  bahkan sampai abad ke- 19.

Kejayaan dan kehancuran perusahaan multinasional ini tidak lepas dari status eksklusif hak monopoli yang diberikan oleh Pemerintah Belanda, pada awal mula kelahirannya, tahun 1602. Akta monopoli ini juga memberikan kekuatan luar biasa hubungan luar negeri, dengan banyak kerajaan lain di masanya.

Operasi untuk memononopoli perdagangan komoditas, atas dasar kontrak monopoli yang sudah sudah ditetapkan sejak awal dibangun, dilaksanakan dengan mengikutsertakan kekuatan militer, karena kompetisi pasar yang sengit terjadi dengan pihak Portugis, Spanyol, dan Inggris. Tumpuan difokuskan pada kekuatan Angkatan Laut. Kekuatan Angkatan Laut ini pula yang berpengaruh di kawasan Asia, khususnya di Srilanka dan Maluku.

Kesuksesan besar lain adalah ketika menjadi satu- satunya entitas dari hemisfer Barat yang diperbolehkan untuk masuk dan berdagang di Deshima, Jepang. Kesuksesan di Jepang ini melukiskan kecemerlangan kapasitas diplomatik VOC. Gambaran kekuatan kewirausahaan juga terlihat pada rentang abad pertama mereka beroperasi, sebuah penguasaan yang mumpuni dalam hubungan perdagangan internasional di Asia, serta tentunya superioritas dalam kemampuan pelayaran samudera serta teknologi perkapalan.

Estimated Sales

Perkiraan Nilai Penjualan VOC versus EIC

Narasi populer menggambarkan betapa mudahnya pelaut dan pedagang Eropa memperkaya diri, sebagai dampak langsung dari hak monopoli pasar, yang ternyata di kemudian hari malah menjadi masalah besar. Dari sejarah ini lah kemudian disadari bahwa kemampuan kewirausahaan dan pengaturan perdagangan menjadi faktor penting yang harus selalu diperhitungkan.

Banyak yang memperkirakan bahwa kekalahan Belanda dari Inggris ( 1780- 1784) menjadi penyebab utama kemunduran performa VOC. Inggris membangun kekuatan finansial dari perdagangan budak, pembajakan laut, dan berbagai usaha maritim di abad ke- 16 dan ke- 17, tetapi bukan cuma itu, mereka juga sembari membangun kekuatan Angkatan Lautnya, Inggris mampu merebut dan mengambil alih banyak aset kapal VOC selama perang itu terjadi.

Pasca Traktat Perdamaian Paris 1784, EIC ( English East India Company), perusahaan multinasional bentukan Inggris, mampu berdagang dengan lebih leluasa tanpa ada persaingan yang signifikan dengan VOC, dan mengambil alih pasar di Timur Jauh. Namun ada juga yang berpendapat bahwa VOC akan tetap menurun performanya di abad ke- 19 karena masalah di internalnya sendiri, yang sebenarnya juga terjadi di tubuh perusahaan EIC.

Selama masa- masa menjelang pailitnya VOC, Belanda adalah satelit dari Perancis, sebuah posisi politik antar negara yang berlangsung hingga kekalahan Napoleon di Waterloo 1815.

The Value of VOC Dividens include Payment in kind

Nilai Pembayaran Dividen oleh VOC dan EIC

Sebagai dampak nyata dari hasil peperangan dengan Inggris, dan pastinya kekalahan dari kompetisi dagang, sinyal kebangkrutan VOC mulai nampak jelas di depan mata. Setelah 1795, Dewan Direksi VOC, 17 Tuan ( Heeren Zeventeen/ Gentlemen Seventeen), digantikan dengan Komite Perdagangan untuk Hindia Timur, dan kemudian 1799 VOC dinasionalisasi. Belanda mengambil alih semua kekayaan, baik berupa aset kepemilikan maupun hutang raksasa VOC.VOC vs EIC

Kantor dagang masih beroperasi sementara, sampai 1803 kantor di Enkhuizen, Hoorn, dan Delft ditutup. Kantor dagang di Middleburg dan Rotterdam diturunkan menjadi kantor cabang. Semua karyawan diberhentikan, dan segala peralatan pelayaran diserahkan kepada Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Struktur manajerial VOC sangat kompleks dan kurang efisien- efektif bila dibandingkan dengan model perusahaan multinasional modern. VOC didirikan sebagai sebuah merjer dari banyak perusahaan yang sebelumnya saling bersaing dengan ketat satu sama lain, di Asia. Menyatukan banyak perusahaan menjadi manajemen satu tangan tentunya bukan perkara yang mudah, apalagi jika sebelumnya mereka adalah rival keras.

Enam kota, Amsterdam, Middelburg, Rotterdam, Delft, Enkhuizen, dan Hoorn, masing- masing dengan Kamar Dagang VOC yang diwakili dalam dewan direksi terpusat, disebutnya 17 Tuan, atau Heeren Zeventeen.

Amsterdam diwakili dengan 8 kursi, atau setengah plus satu.  Struktur manajemen ini difasilitasi oleh Johan Van Oldenbarneveldt, politisi terkuat kedua di Holland, yang mengusulkan perlunya suplai pemasukan stabil, untuk mendukung ketujuh propinsi tersebut berperang melawan Spanyol, demi mendapatkan kemerdekaan sendiri. Sebuah model ekonomi yang lebih kuat diperlukan untuk memenangkan pertempuran jangka panjang.

VOC Cumulative Investment

Kamar Dagang VOC menjadi operator dari setiap keputusan 17 Tuan, begitu juga dengan perwakilan dagangnya di Asia. Kamar Dagang VOC akan mengajukan proposal investasi, daftar  komoditas yang dibutuhkan dari Asia, mengontrol pembukuan, membangun kapal, merekrut karyawan, dan mengatur pemberangkatan armada.

Sejak awal berdirinya, investor sering mengeluarkan keluhan tidak puas atas dividen yang dibagikan. Struktur manajemen yang gemuk dan kompleks memang sangat tidak efektif dalam proses pengambilan keputusan, berikut juga lapisan- lapisan manajerial yang di struktur organisasi VOC di Asia. Sistem yang kompleks ini terbangun sejak abad ke- 17 dan berlanjut hingga akhir abad ke- 18.

VOC Stock Transfer

Jarak yang terlampau jauh, dalam hal penyampaian informasi dan komunikasi dalam rangka pengambilan keputusan, dari Kantor Pusat VOC ke Batavia, dan sebaliknya, jelas sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. Pelayaran kapal VOC melalu rute Brouwer yang dibuat sejak 1616 lewat Samudera Hindia bagian selatan dan Pantai Barat Australia, memakan waktu kurang lebih 9 bulan, sedangkan perjalanan baliknya butuh 7 bulan, 16 bulan untuk perjalanan pergi pulang.

Dampak dari komunikasi yang sangat lambat ini salah satunya adalah yang dialami sendiri oleh Gubernur Jendeal Jan Pieterzoon Coen, yaitu pasca ditandatanganinya perjanjian perdamaian, menyatakan bahwa East India Company (EIC ) yang berkantor pusat di London diperbolehkan memasuki Maluku untuk berdagang, tepat setelah Coen berhasil menangkap dan menghancurkan kapal- kapal dagang milik EIC, karena sebelumnya memang mereka berperang. Konsekuensi lain misalnya, permintaan barang dari 17 Tuan biasanya baru sampai 2.5 tahun setelahnya. Namun yang menjadi masalah sebenarnya adalah soal kendali dan pengawasan, jarak yang jauh ini menjadi pembenaran bagi staf senior untuk melakukan banyak aksi di luar wewenang mereka.

VOC memang adalah sebuah perusahaan besar, bahkan dengan standar modern sekalipun. 17 Tuan membawahi membawahi 6 Kantor Dagang yang  bertanggung jawab dengan 30 kawasan perdagangan di Asia. Secara keseluruhan perusahaan memiliki ratusan kapal dan pekerja sejumlah 20, 000 sampai 30, 000 di Holland dan Asia. VOC sendiri membangun kurang lebih sebanyak 1500 kapal selama mereka berdiri. 17 Tuan tidak pernah mendapatkan laporan keuangan yang terintegrasi, menggabungkan keseluruhan catatan finansial dan komersial secara terpadu,  akibatnya hasil pelaporan menjadi sangatlah buruk.

VOC Shareholders

Pembukuan di Asia juga menambah komplikasi masalahnya. Model yang dibangun sejak 1613 tidak pernah diganti selama berdirinya perusahaan. Komoditas VOC sampai ke Belanda dengan harga sesuai beban operasional, dan prakteknya ini dilakukan di semua cabang Asia. Model ini menyulitkan untuk bisa dikalkulasi. Berikut yang lebih membuat bingung adalah harga perak yang dihargai lebih tinggi 25% di Batavia daripada di Holland.

Perusahaan multinasional VOC memberlakukan sistem penghitungan keuntungan dan pencatatan akuntansi yang terhitung primitif, sama sekali tidak sesuai dengan kemegahan operasinya. Informasi yang sampai ke tangan 17 Tuan dan para direktur di Kantor Dagang sama sekali tidak memiliki kejelasan indikasi tentang produk mana yang paling menguntungkan. Banyak yang menduga bahwa 17 Tuan selalu disuguhkan dengan data yang kurang akurat tentang gambaran keseluruhan kinerja perusahaan. Detail laporan keuangan di Batavia akan membutuhkan waktu tahunan untuk bisa sampai ke Amsterdam, itu pun kalau memang sampai.

Tujuan utama 17 Tuan adalah memonopoli perdagangan, adapun cara yang digunakan adalah dengan negosiasi damai, maupun dengan cara kekerasan militeristik. Pendekatan militer digunakan 1620 di Maluku, sehingga komoditas lada dan pala bisa dimonopoli oleh VOC. Metode ketiga yang dipakai adalah dengan membeli keseluruhan stok yang dimiliki oleh penyuplai, dengan sistem kontrak dan kapasitas modal yang dimiliki oleh VOC. Dengan ketiga model transaksi itu, VOC secara mutlak mengendalikan komoditas cengkeh di seluruh Asia tahun 1670. Monopoli biasanya berujung pada naiknya harga jual dan menurunnya volume penjualan. Tingginya harga jual komoditas monopoli juga mencetuskan penyelundupan dan pasar gelap, yang mendorong pengeluaran beban pengamanan militer di sisi lain.

VOC Annual Average Interest Rates

Divisi terbesar dari perusahaan multinasional VOC ini adalah divisi keamanan atau militer swasta. Catatan yang dimiliki oleh 17 Tuan pada tahun 1688 terdapat 7,806 personel ditempatkan di Asia, dari keseluruhan 11, 551 personel militer organik. Divisi kedua adalah pelaut, yang jumlahnya setengah dari jumlah personel militer. Sebagian dari personel militer berasal dari luar Propinsi Belanda, termasuk diantaranya dari Jerman, Skandinavia, Polandia, Inggris, Swiss, bahkan dari Baltik.

VOC ini bisa jadi adalah cikal bakal dari Legiun Asing Perancis (French Foreign Legion) atau kontraktor militer swasta, dimana banyak lelaki petualang dan masih bujangan dari seluruh pelosok Eropa mendapat peluang untuk dipekerjakan. Biaya beban pemeliharaan personel militer yang terlalu besar ini pada akhirnya juga akan berkontribusi pada bangkrutnya VOC. Namun, yang menjadi paradoks adalah jumlah personel divisi manajemen dan bisnis, yang cuma berjumlah 1000 di seluruh Asia, benar- benar sebuah ketidakseimbangan manajerial yang parah.

Pada awal berdirinya VOC, dibawah kepemimpinan gubernur jenderal pertamanya yang ambisius,  berjiwa wirausahawan, dan sekaligus kontroversial, Jan Pieterszoon Coen,  dia berhasil mendominasi perdagangan maritim di Asia. Coen sangat memahami bahwa menguasai trayek perdagangan kuno ini sangatlah menguntungkan. Coen berargumen bahwa hanya dengan menyuplai kapal, dan sekaligus menjadi angkutan komoditas, itu sudah cukup  menghasilkan keuntungan besar, tanpa butuh banyak modal awal dari Belanda. Pada awalnya strategi ini berhasil, sampai ketika akhirnya pegawai- pegawai VOC di Asia mengambil peluang untuk memperkaya diri, dan melawan perusahaan tempat mereka sendiri bekerja.

Banyak yang memperkirakan bahwa sebenarnya banyak administrator dan pedagang yang sangat bisa diandalkan di dalam struktur organisasi VOC, dan sebenarnya tanpa adanya mereka, VOC sudah bangkrut sedari awal, tak sampai 2 abad beroperasi. Polanya terbaca bahwa sepanjang abad ke- 17, 100 tahun pertama kinerja operasional VOC, mereka masih memiliki banyak staf yang bisa diandalkan, berdedikasi tinggi, dan berjiwa wirausahawan. Seratus tahun terakhir menjelang kebangkrutan VOC, di abad ke- 18, stafnya sibuk memperkaya diri.

Patut dicatat, bahwa pada abad ke- 18, banyak pegawai senior VOC yang menjalin kerjasama bisnis saling menguntungkan dengan beberapa orang Inggris yang bekerja untuk EIC. Spekulasi terbentuk bahwa sebenarnya ada peluang merjer antara VOC dengan EIC, seperti yang terjadi antara Royal Dutch Oil dengan Shell.

VOC vs EIC 2

17 Tuan terlambat merespon situasi yang terjadi, dan mereka juga terlalu ragu untuk mengambil keputusan segera di abad ke- 18, dan ketika sudah terjadi proses reformasi, semua sudah terlambat.

Sangat jelas bahwa sampai tahun 1660 VOC mampu menghasilkan keuntungan yang signifikan dari Asia. Selama tahun 1660- 1670 ada efek dari peperangan di Srilanka dan Malabar, namun 10 tahun berikutnya keuntungan melimpah masih dapat diraih. Setelah itu, keuntungan terus menurun dan mulai berganti menjadi kerugian terus menerus. Total pemasukan f327M dari tahun 1621-1700  dan  f450M dari tahun 1700-1780. Beban operasional bertambah dramatis di tahun- tahun berikutnya, dari  f290M sebelum tahun 1700 dan  f570M antara tahun 1700 dan 1780. Porsi kerugian semakin parah setelah tahun 1770. Dari laporan keuangan internal, bisa diketahui bahwa setelah tahun 1690, tidak ada satu tahun pun VOC menunjukkan keuntungan.  Pada abad ke- 17 90% pemasukan berasal dari perdagangan. Pada abad ke- 18 berkurang menjadi 60% dari pajak, jasa angkutan, dan suplai opium.

Menariknya, populasi Belanda pada saat berdirinya VOC hanya berjumlah 2 juta, dan seiring berjalannya VOC, populasi bertambah 10 kali lipat sampai 20 juta orang. Model pengaturan korporasi di Belanda juga berevolusi dan semakin matang sebagai pelajaran mutlak dari pengalaman ini, hingga sekarang melahirkan sekitar 20 perusahaan multinasional baru, yang seperti halnya VOC, mampu mempekerjakan 20,000 orang di setiap perusahaan tersebut. Jadi sebenarnya perusahaan multinasional pertama dan terbesar, VOC,  memang meletakkan landasan untuk berdirinya perusahaan multinasional modern.

2 comments on “Kompeni!

  1. suryanaparamita
    March 22, 2014

    Reblogged this on See, Hear, Write It!.

  2. unidzalika
    April 12, 2014

    bacaannya beraaat -.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 22, 2014 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: