Usual Storyline

oeuvre

Pandu

Bajuku sudah berwarna cokelat tua berkerak, berasa asin kalau tak sengaja terjilat, bercampur dengan keringat kering, bagian kerah dalam berwarna gelap, itu mungkin adonan daki, debu, dan garam sisa penguapan keringat, yang bersatu dengan kain keras. Celana dalam sudah tak diganti empat hari, entahlah bagaimana penampakannya, biasanya kalau dijemur beraroma kambing, berkeringat, lembab, dan kumal dekil.

vlcsnap-2014-05-11-20h56m03s46

Troop 55, Moonrise Kingdom, Wes Anderson& Roman Coppola ( 2013)

Tiap hari disini penuh dengan kegiatan lapangan, dari pagi sudah upacara, siang berlomba, sampai malam pun selalu ada yang jaga, menunggu ada panggilan kalau morse lampu atau api unggun dimulai, penat dan melelahkan, sampai tak sempat mandi, apalagi ganti baju, tidur pun harus pakai sepatu, siap siaga selalu.

Tadi pagi upacara penaikan bendera, kebagian tugas jadi pembaca Dasadarma. Tenda sebelah kebagian jadi komandan upacara, orang Purworejo, ternyata senior setahun lebih tua¹, pasangan pelajar teladan kakak kelas dari Sukoharjo, tapi sama- sama kalah pas harus tanding di Jakarta, cerdas tapi gaya kampung, kabarnya dia mau daftar ke sekolah elit, di Magelang². Gunung Ungaran, lokasi perkemahan kepanduan ini, memang panas dan kering, tidak mandi empat hari bukan perkara yang nyaman untuk dialami, percayalah.

Hampir tertidur di tenda ketika kawan berbisik, ada sungai di seberang bukit, siang ini tak padat jadwal lomba, mungkin kita bisa berenang sebentar. Sore kemarin agak trauma dengan kondisi toilet umum, penuh dengan pembalut bekas. Toilet umum disatukan antara laki- laki dan perempuan, panitia yang bikin aturan. Rupanya regu- regu kepanduan perempuan banyak yang datang bulan, dalam waktu yang sama. Penampakan toilet yang bertebaran pembalut bekas itu sungguh dramatis, aromanya yang anyir bercampur pesing, juga tentunya bau kotoran manusia, membuat mandi jadi hilang selera, ah sudahlah.

Sungainya memang ternyata ada di balik bukit, seperempat jam berjalan sudah terlihat warnanya, coklat keruh seperti seragam kami, agak berpasir pula. Tak perlu menunggu lama semua baju pun tanggal, kecuali celana dalam, yang beraroma kambing berwarna dekil, masih menempel. Sungguh ini mandi yang paling nikmat, dan segar. Arus sungainya lambat di pinggir, kami cuma berenang di sepanjang bantaran saja, tak sampai ke tengah, arusnya lebih kuat, dan lebih dalam pula, lagi pula tujuan kami cuma mau mandi, sekedar membasahi badan.

Ranjau! Begitu teriakan kawan yang berdiri di tepi, kami menengok ke arah yang dia tunjuk, rupanya ada beberapa gerombol kotoran manusia kuning pucat, mirip pisang goreng, yang mengambang pelan, dengan tenang hanyut terbawa arus sungai, letaknya semakin mendekat dengan posisi mandi kita. Bergidik ngeri, teringat dengan pembalut perempuan bekas yang berceceran kemarin, kami segera berlari ke tepi. Tanpa handuk, baju coklat dekil dipakai langsung, bersatu dengan celana dalam yang masih basah, sudahlah jangan tanya bagaimana rasanya, ini bagian dari petualangan di alam bebas, terima saja.

Seusai mandi kami makan siang, masih ada sedikit waktu istirahat sebelum perlombaan³ dimulai. Lomba kali ini pioneering, membuat menara pengawas dari tongkat bambu, mengandalkan kemampuan tali temali, tak perlu banyak tenaga. Untuk menghemat persediaan ransum, siang itu pilihan jatuh ke mie instant, cukup direbus saja, terus dicampur sedikit abon sapi, karena abon memang standar minimal makanan biar ada rasa dagingnya, walau sedikit taburannya. Kami makan pakai ranting yang dipatahkan jadi sumpit, yang tak bisa sumpit ya diputar- putar saja, pokoknya masuk.

vlcsnap-2014-05-11-20h58m20s111

Camp Ivanhoe, Troop 55, Moonrise Kingdom

Kami berpeluang terkena diare, tifus, disentri, malaria, demam berdarah, atau minimal sembelit, bisa juga malnutrisi, selama ikut perkemahan. Tapi ternyata tidak, kami masih hidup, hanya bobot badan turun, kulit legam bersisik, dan gatal- gatal di kulit, karena tak mandi, itu saja, tidak sampai sakit, apalagi mati.

Dulu, sebagai anak- anak dengan pengalaman sebagai pencari jejak, pembuat peta, dan segala kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup, di luar peradaban manusia, membuat keinginan menjadi serdadu khusus menjadi mantap. Kalaupun bukan serdadu pemerintah, menjadi serdadu bayaran pun tak mengapa, yang penting legal buat berpetualang, dan punya lisensi membunuh.  Namanya juga anak- anak, imajinasi seringkali tak sepadan dengan realitas.

050628-N-0000X-001

SEAL Team 10, Marcus Luttrel, Mike Murphy, dan tim

¹ Penggalang Terap, tingkat tertinggi di Pramuka Penggalang, biasanya SMP kelas 2- 3, usia 13- 14 tahun
² Kami bertemu lagi di tempat kuliah, beda jurusan, satu asrama
³ Lomba Tingkat ( LT) IV, semacam perlombaan untuk kepanduan level Penggalang, di tingkat propinsi. Pemenang akan maju ke LT V level nasional

One comment on “Pandu

  1. wagerrr
    June 7, 2014

    Artikel ini mengingatkan saya pada masa-masa sekolah dulu yang selalu berkutat dengan aktivitas perPanduan. Seru dan mengasikkan, walau kadang juga menyedihkan karena beberapa rekan tewas saat lintas alam. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 16, 2014 by in Review and tagged , .
%d bloggers like this: