Usual Storyline

oeuvre

Kebatinan

Aliran kanuragan ( olah raga) dan kebatinan ( olah jiwa) ala ajaran klasik Jawa sering mensyaratkan puasa dan bertapa, dengan berbagai modelnya, sebagai pra kondisi sebelum mempelajari sebuah “ilmu” atau ke”mampu”an. Beberapa agama juga memiliki mekanisme puasa dan menyendiri sejenak, sebagai anjuran yang dekat dengan upaya penyucian jiwa, semacam usaha pembersihan diri atas segala kesalahan pribadi.

Puasa dalam metabolisme fisis berarti pantang memakan makanan tertentu pada waktu tertentu, semacam pengaturan ketat volume suplai dan variasi asupan energi untuk beraktivitas. Dalam fungsi psikis, puasa juga mensyaratkan pembatasan suplai stimulan, terhadap semua sensor yang ada di tubuh, semisal pembatasan atas paparan objek visual, pendengaran, penciuman, dan aktivitas seks aktif maupun pasif, atau mudahnya puasa memang disamai dengan bertapa, atau mengasingkan diri.

Ilmu- ilmu ekstrasomatik, semacam bahasa, matematika, sains saintifik, komputer, geografi, atau akuntansi, pendeknya ilmu- ilmu yang diajarkan oleh sekolah modern, untuk kalangan sipil non militer, tak mensyaratkan itu, setidaknya intelektualitas tak butuh keterlatihan fungsi somatik tubuh.

Ilmu semacam apa yang mensyaratkan keterlatihan somatik tubuh untuk menguasainya? Penjelasan yang mungkin bisa membantu, kenapa manusia anggota masyarakat tribal bergaya hidup berburu meramu, di habitat hutan pegunungan, padang pasir bersemak, atau kawasan tundra bersalju, semacam Suku Dayak, Anak Dalam, Badui Dalam,Papua, Kung!, Sentinel Andaman, Indian Amerika, Aborigin, Maori, serta Inuit dan Amazon, mampu mencari jejak dan navigasi daratan- lautan dengan mengandalkan sensor di tubuhnya, adalah karena habitat hidup mereka yang belum padat dengan stimulus supernormal ( supernormal stimuli ) atau rangsangan di atas ambang batas normal, yang biasa diterima oleh sensor somatis tubuh. Normal itu relatif, karena anatomi dan fisiologi manusia sangat dipengaruhi oleh habitatnya.

Kosakata supernormal stimuli ini diperkenalkan oleh Nikolaas Tinbergen, etholog Belanda, serta Konrad Lorenz dan Karl Von Fritz, etholog Austria, yang mendapatkan nobel bidang fisiologi dan kedokteran, atas penelitiannya ini. Berikutnya ada beberapa ilmuwan yang mengembangkan hasil penelitian ini ke kasus yang lebih kompleks dan lintas keilmuan, diantaranya Richard Dawkins, pakar biologi evolusioner Inggris bimbingan Tinbergen, dan Deirde Barret, psikolog Amerika Serikat .

Cerita bergambar dari Stuart Mcmillen ini bisa menyingkat banyak narasi tekstual tentang riset nobelis Niko Tinbergen dan Konrad Lorenz, tentang stimulus supernormal:

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-01

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-02

 

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-03

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-04

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-05

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-06

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-07

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-09

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-10

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-112011-12-en-Supernormal-Stimuli-12

2011-12-en-Supernormal-Stimuli-132011-12-en-Supernormal-Stimuli-142011-12-en-Supernormal-Stimuli-152011-12-en-Supernormal-Stimuli-162011-12-en-Supernormal-Stimuli-172011-12-en-Supernormal-Stimuli-182011-12-en-Supernormal-Stimuli-192011-12-en-Supernormal-Stimuli-20

 

Narasi pendeknya, sistem kesadaran ( consciousness) binatang bisa ditipu dengan merangsang sisi insting ( instinctive) primernya. Insting primer binatang dipengaruhi oleh sensor somatik di organ tubuhnya, dari penglihatan, pembau, pendengaran, pengecap, dan perasa. Manusia sebenarnya, dengan segala intelektualitas yang dibangun oleh fungsi kesadarannya, tidak akan bisa lepas dari insting primalnya, beberapa pakar menyebutnya otak reptil, yang spontan dan instingtif, dikendalikan sumsum tulang belakang, bukan otak.

Tipuan- tipuan artifisial ini bertebaran di peradaban modern, dan cenderung di luar fungsi kesadaran manusia sendiri. Ada lelucon menarik yang bisa dipikirkan lagi, bahwa bisa jadi perubahan gaya hidup manusia, dari berburu meramu ke bercocok tanam dan beternak bukanlah sebuah “kemajuan”, melainkan kemunduran bagi manusia. Manusia pemburu benar- benar mengandalkan fungsi sensorik somatis di organ tubuhnya untuk bertahan hidup, mencari makan dan pasangan kawin, sedangkan manusia bercocok tanam dan peternak, tak perlu bersusah payah mengasah insting somatisnya, makanan berlimpah dan bisa diatur dengan leluasa. Sistem sosial yang kompleks dari peradaban modern dibangun dari keberlimpahan makanan, yang diikuti dengan pengaturan kependudukan, pertahanan keamanan, baru kemudian yang lebih rumit lagi, perdagangan.

Beberapa hasil kemajuan peradaban modern, yang potensial menimbulkan stimulus supernormal adalah

Makanan Siap Saji ( junkfood). Makanan siap saji cenderung membangun paparan yang abnormal terhadap sensor pengecap, perasa, pembau, dan penglihatan manusia. Laju konsumsinya juga senantiasa bertambah terus, karena makanan siap saji ini juga adalah komoditas perdagangan, selain fungsinya untuk bertahan hidup. Makanan sekarang punya fungsi tambahan, memuaskan cita rasa, yang berpotensi menimbulkan sensasi ketagihan berlebih, bahkan mungkin ketergantungan.

Televisi dan Permainan Virtual ( Video Games). Televisi dan games bisa jadi alat untuk melarikan diri dari kenyataan, dan bahkan menciptakan kenyataan baru, di fungsi kesadaran manusia. Perasaan marah, sedih, gembira, simpati, bahkan solidaritas kelompok, bisa disalurkan lewat dua frekuensi tadi. Manusia modern jarang yang bisa lepas dari TV dan video games, bahkan akan sangat merasa kehilangan tanpa dua aktivitas tadi. Perilaku manusia bisa dibentuk dari frekuensi aktivitas menonton TV dan bermain video games

Pornografi. Pornografi adalah produk kontroversial, yang juga merupakan inovasi dari kebutuhan primal manusia, kawin, reproduksi, dan rekreasi. Paparan berlebihan dari hasrat mencari pasangan kawin, yang direkayasa dengan teknologi sedemikian rupa, mendorong produksi dopamin di atas batas normal, dan cenderung merusak. Pornografi sangat cerdik untuk memancing insting primal dari profil pasangan kawin, menambah dosis rangsangan, dan ujungnya sama, ketagihan rangsangan sensasinya. Pornografi dengan teknologi modern potensial menurunkan ketertarikan manusia dengan pasangan kawin naturalnya, karena dosis rangsangan sudah jauh di atas sekresi dopamin yang normal dihasilkan oleh sistem hormonnya.

Internet. Rangsangan audio visual dan tekstual menenggelamkan manusia modern, dan samudera luas informasi, yang entah itu diperlukan atau malah menimbulkan data smog, data berlimpah namun tak mampu difungsikan dengan optimal. Paparan informasi berlebihan, di luar kebutuhan dasar, di satu sisi memicu ketergantungan, dan di sisi lain mendorong rasa “kenyang” yang palsu, seolah- olah tahu segala sesuatu, lalu tak butuh berinterasi sosial. Rasa yang penuh dengan informasi junk ( sampah) ini mendorong pilihan sikap hidup reklusif secara massal, manusia kembali ke gua, karena merasa tidak aman dan tak terlindung, ketika berada di luar rumah, atau “gua”nya.

Lalu, apakah ini berarti bahwa manusia modern sebaiknya mengurungkan niat untuk berinovasi dan membangun peradabannya? Tidak, tulisan ini bukan untuk mendorong orang kota berteknologi tinggi, untuk romantis ingin mengubah diri ke gaya hidup nomaden yang soliter dan penuh petualangan, tapi sering mengancam nyawa itu.

Tulisan ini hanya ingin menarasikan tentang pertanyaan, kenapa di dunia modern, yang merasa serba rasional dan logis, masih ada manusia yang punya tradisi menahan diri, dengan berpuasa dan bertapa sejenak, lewat lintas disiplin keilmuan. Fungsi kesadaran rasional dan spontanitas manusia itu berdampingan, dengan keduanya kita bisa bertahan hidup, berkembang biak, sampai sekarang. Mengenali stimulus yang normal dan supernormal, adalah hak manusia, untuk bisa mengenali diri, dan mengendalikan dirinya.

Puasa dan bertapa sejenak, adalah upaya untuk mempertanyakan ulang, ke sistem somatis tubuh kita sendiri, mana yang normal dan mana yang supernormal, lalu kita boleh pilih lagi. Sesuatu yang supernormal, dilakukan secara rutin dan menjadi habituasi, akan berubah statusnya menjadi normal, kita tak bisa lepas dari aktivitas itu, dan akan merasa kehilangan berat, jika sampai tak mendapatkannya. Rasio dan logika manusia tidaklah lebih dominan dibanding insting primal yang ada di fungsi somatik tubuh, tapi keduanya bisa untuk dikendalikan.

Toh pada kenyataannya, manusia butuh aklimatisasi sebelum berpindah habitat, dan rehabilitasi, setelah bepergian dari kawasan yang asing, dengan perbedaan keadaan iklim yang ekstrem. Tingkatan pelaku kanuragan dan kebatinan Jawa di level atas, adalah yang mampu melakukan tapa rame, atau menyepi dalam keramaian, seolah- olah memiliki locus tersendiri, yang memberi ruang privat tersendiri pada suasana interaksi publik, yang ramai dan penuh gejolak.

 

 

3 comments on “Kebatinan

  1. edwinlives4ever
    May 30, 2014

    And reading that comic attached to your post is another supernormal stimuli, Max. Ever thought of that?
    😉

  2. sherlanova
    June 28, 2014

    Only to internet, at some degree.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: