Usual Storyline

oeuvre

Bejo

Skill, knowledge, abilities and experience are only useful if you are at the right place, right moment, right peers. Otherwise you will just waste these along with your time and opportunities.

Punya keahlian formal di bidang nuclear engineering, atau applied biochemistry, bisa bicara dan menulis dalam 6 bahasa internasional secara aktif, tapi berdomisili di pedalaman Jawa Tengah, semacam daerah Slogohimo, Purwantoro, Jatipuro, di Wonogiri, atau Wonosari, di Gunung Kidul, Yogyakarta, yang kering kerontang, tandus, berkapur, berhawa panas, jarang ketemu orang,  dan susah diakses kala musim penghujan, tak ada sinyal komunikasi baik ponsel maupun internet, dan sehari- hari masyarakatnya berbahasa Jawa ngoko, tentunya menggelikan, kalau tak mau dibilang tragis.

img_4424-ed-crop-s

Perempuan Pencari Kayu Bakar di Jawa

Apa iya, memang ada orang- orang yang lahir di negara yang salah, di waktu yang salah, dan bertemu orang yang salah? Sangat bisa terjadi, dan mungkin orang- orang yang sedang mengalami itu adalah keluarga, sahabat, atau kamu sendiri. Populasi manusia, sistem sosial masyarakat, punya keinginan dan kemauan yang tidak selalu sejalan dengan potensi individu anggotanya, maka kompromi demi adaptasi itu selalu perlu, demi bertahan hidup.

Kecenderungan negara dengan GDP perkapita yang besar, setidaknya 20 besar negara dengan GDP perkapita tertinggi, biasanya juga dibangun oleh aktivitas- aktivitas ekonomi yang membutuhkan spesialisasi- spesialisasi khusus, yang tentunya dibentuk oleh pendidikan formal berspesifikasi terfokus. Kekuatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh kerjasama multidisiplin yang terorganisir dengan rapi dan produktif, dan punya tujuan jelas menuju kemana. Struktur masyarakat juga dibangun dengan fungsi- fungsi sosial yang jelas, rapi bergerak sesuai konsensus.

Sebaliknya, di luar 20 besar negara dengan GDP perkapita tertinggi, aktivitas ekonomi dibangun oleh tenaga kerja dengan kemampuan umum, atau generalis, yang dicampur dengan sedikit spesialisasi khusus. Setidaknya memahami di negara mana kita berdomisili, dan berkarya, akan membantu untuk beradaptasi dalam soal fungsionalitas kemampuan diri. Harapan orang yang punya kapasitas spesialis tinggi, untuk bisa fungsional, jika dia hidup di negara dengan GDP perkapita rendah, adalah dengan melamar kerja di perusahaan multinasional, toh mereka kan juga negara berbadan hukum perusahaan, dan jelas menghargai keahlian, dengan harga yang pantas.

Menjadi fungsional itu penting, jauh lebih penting daripada cuma merasa ingin dihargai atau diperhatikan. Berusaha membaca kemana arah gerak populasi, apa yang sebenarnya mereka butuhkan, itu adalah usaha untuk berkompromi, mengadaptasikan keahlian pribadi dengan kebutuhan populasi, tentunya dengan transaksi ekonomi yang sepadan, untuk bisa bertahan hidup layak.

Jadi, jika kamu punya keahlian, pengetahuan, dan pengalaman yang mumpuni, maka pahamilah bahwa kamu butuh bertemu dengan keadaan yang tepat ( circumtances), waktu yang tepat ( moment), dan manusia yang tepat ( peers), agar bisa fungsional.

Dalam tulisan ini, hanya ingin menjelaskan nasehat lama orang tua Jawa, bahwa orang pintar masih kalah dibanding orang yang beruntung ( Wong pinter kalah aro wong bejo), karena bisa jadi orang pintar tadi tidak bertemu dengan keadaan yang tepat, orang yang tepat, atau waktu yang tepat, dia lahir di waktu yang salah, tempat yang salah, dan bertemu orang yang salah, atau pendeknya, kurang beruntung.

Jika bertemu dengan manusia berkapasitas tinggi, berpengalaman banyak, tapi masih percaya dengan “takhayul”  ( superstitious) semacam berdoa kepada Tuhan, yang tak pernah kelihatan itu, maka bisa jadi dia paham benar, bahwa keadaan tak selalu berpihak kepada orang yang menurutnya tepat, dan keadaan tak selalu dalam kendali manusia. Dia mungkin percaya dengan konsep takdir dan darma, berdasar pengalamannya sendiri.

Orang kota yang modern, berpendidikan tinggi, berfasilitas lengkap, mungkin tak perlu merasa butuh percaya dengan takhayul semacam takdir dan darma, atau butuh minta sesuatu ke  Tuhan, karena semua keadaan ( circumstances) seolah- olah bisa dikendalikan dengan baik. Nasehat klasik kedua dari orang tua Jawa adalah, seberuntungnya manusia lupa, masih beruntung manusia yang selalu ingat dan senantiasa waspada ( bejo- bejane wong lali, sih becik sing eling lan waspada).

Bisa jadi, ya bisa jadi, orang- orang modern itu hanyalah beruntung, mereka lahir di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan di lingkungan manusia yang tepat, yang kemudian keberuntungan itu membuat jadi hilang kewaspadaan,  lupa bahwa keadaan tak selalu dikendalikan.

Choose the impossible probable, instead of improbable possible, and be instinctively conscious, than consciously instinctive.

And remember, shit happens!

Sumber foto 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2014 by in Review and tagged , , , , , , , .
%d bloggers like this: