Usual Storyline

oeuvre

Raja Jawa

Terminologi “Raja Jawa” sering dilabel berkonteks peyoratif, oleh kalangan menengah terdidik perguruan tinggi di Indonesia, ke pemimpin administratif nasional atau lokal yang tak suka berdiskusi terbuka, berkesan tak intelek, tak membuka pikiran, tak merasa aman ( insecure), suka pamer kuasa, nepotis, kolutif, dan cenderung ingin punya kuasa absolut, atas tanah dan wilayah. Sebuah sesat logika kelas berat, bisa jadi juga karena kurang piknik, kurang baca, atau memang sentimen negatif ke budaya lokal- komunal, tanpa mau mencari tahu sebab awalnya.

Perilaku norak mampus semacam di atas bukan cuma dimonopoli para “Raja Jawa”, coba buka sejarah Eropa pertengahan, Eurasia, Skandinavia, dan Asia timur jauh, kelakuan penguasa tanah klasik ( feudal lord) di wilayah Britania, Perancis, Italia, Jepang, Cina, sama persis dengan penguasa klasik di Pulau Jawa, Sumatera, Maluku, atau Sulawesi! Era yang Denys Lombard sebut, itu zaman kerajaan konsentris. Ketika model kekuasaan politik dan militer sebuah kerajaan diukur dari rentang jarak dengan pusat kendali administrasinya.

192

Mungkin kalangan menengah terdidik yang superior kecerdasan dan pengetahuannya ini memang merasa dirinya liyan, merasa bukan bagian dari budaya pedalaman yang cenderung komunal ( ah, macam kaum sosialis Fabian yang gemar bergerombol dan pemalas, serta tak produktif saja ya hehe), menuduh orang di sekitarnya sendiri, tetangga- tetangga terdekatnya sendiri, mengidap penyakit herd mentality, gampang disuruh- suruh, diarahkan, memilih penguasa yang juga kronis penyakit mentalnya, dibakar emosi kelompok pakai sentimen agama atau marga ( mob mentality). Coba sekali- sekali sebut mirip Raja Venesia, Florence, Genoa, Northumbria, Naples, Denmark, Gothland, Swedia, Prusia, Shogun Jepang? Label itu soal konteks, mereka, bangsa yang dibanggakan dengan pencapaian sosial- ekonominya itu, juga pernah suatu masa punya penyakit kuasa absolut, ala kerajaan konsentris, penguasa tanah bergaya norak mampus.

Mungkin benar juga nasehat almarhum Romo Mangun, sekolah tinggi- tinggi malah mendidik pemuda di Indonesia untuk jijik dengan masa lalu bangsanya, dengan akar rumput masyarakatnya sendiri, padahal hidupnya di rumah yang saling berdampingan, di jalan raya pun jalan kendaraannya berjajar, malah sering berhimpit. Di jalanan dan lingkungan RT, yang merasa intelek dan tidak intelek bercampur aduk, kadang gesekan, sering malah kan ya? Memang realitas itu menyebalkan sih.

Mungkin, mungkin memang perlu lebih banyak piknik, keluarlah dari Jakarta sejenak, keluar dari berita TV atau sosial media yang melulu menyiarkan Jakarta nan hebat dan kota lain banyak masalah. Perlu juga bertapa sejenak membuka koleksi buku antropolog Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya 3 seri, atau Kerajaan Aceh, yang narasinya sedap dikudap, atau cerita Romo Mangun dan Umar Kayam tentang keseharian orang lokal. Piknik dan bertapa itu sehat kok.

Mungkin kalangan menengah terdidik bersekolah tinggi- tinggi, yang sekarang digaji US Dollar ( kan lebih kuat dari Indonesian Rupiah) , bisa bereksperimen, berinvestasi di sektor riiil, yang kata penasehat keuangan bersertifikat, beresiko tinggi, di luar pasar uang. Berbisnis adalah metode paling sedap untuk mengambil data primer budaya manusia lokal ( behavioral economic). Siapa tahu mau investasi di pabrik kerupuk di Purwakarta, telor asin di Brebes, ternak sapi di Temanggung, singkong di Wonogiri, supaya tidak asal menghakimi soal penyakit herd mentality, atau mob mentality. Lagipula kalau ada putaran uang di luar Jakarta, atau kota besar di Jawa, ibu- ibu atau mbak- mbak itu kan tak perlu jadi TKI ke Saudi, bisa menghidupi keluarga di desanya masing- masing.

“Raja Jawa”, enak saja sembarang melabel! Coba piknik sekali- sekali lah Bro

~ In memoriam Denys Lombard, Romo Mangun, & Umar Kayam, thanks for the book Sir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 2, 2014 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: