Usual Storyline

oeuvre

Modal Kompeni

VOC ( Vereenigde OostIndische Compagnie/ United East India Company ), Kongsi Dagang Hindia Timur, atau yang lazim cuma disebut “kompeni” dalam narasi sejarah formal Indonesia, bukan saja sebuah entitas perusahaan multinasional yang memang pernah ada berdiri, tapi kemungkinan besar adalah juga korporasi terbesar yang pernah ada, dalam catatan sejarah.

Largest Map

Komparasi Kapitalisasi Pasar. ( Barry Ritholtz, Marc Faber, Richard Dale, Bloomberg, Clem Chambers, Wikipedia, Yahoo! Finance, dan Sheridan Titman. Disesuaikan nilai inflasi)

Perusahaan ini berdiri selama hampir 200 tahun, sejak didirikannya pada tahun 1602, yaitu saat Pemerintah Belanda memberikan hak monopoli 21 tahun, atas keseluruhan operasi perdagangan internasional Belanda di Asia, sampai diberhentikan operasinya pada tahun 1796. Selama 2 abad rentang operasinya, VOC mengirimkan jutaan orang ke Asia, jauh lebih  banyak daripada jumlah penduduk Eropa waktu itu.

Mereka memimpin hampir 5000 kapal dagang, dan menikmati keuntungan besar dari perdagangan komoditas rempah. Saat itu VOC, sebagai sebuah perusahaan, ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan beberapa negara. Salah satu penyebabnya, Amsterdam saat itu adalah pusat keuangan global, selama rentang waktu 2 abad. Keberadaan VOC bukan saja mengubah peta dunia, tetapi juga pasar keuangan global.

Pondasi dasar pembentukan VOC diletakkan ketika Belanda mulai menantang dominasi monopoli Portugis di Asia Timur sekitar tahun 1590-an. Usaha ini menampakan hasil sukses, beberapa kapal barang bahkan mampu meraih keuntungan hingga 400%, dan pihak investor mulai menginginkan lebih. Sebelum resmi didirikan VOC tahun 1602, kapal dagang beroperasi individual, dengan dibiayai oleh pedagang sebagai rekanan terbatas, yang perannya berhenti saat kapal kembali ke pelabuhan.

VOC Map

Wilayah Jelajah Kapal Dagang VOC

Pedagang akan berinvestasi pada lebih dari satu kapal, untuk membagi resiko investasi, jika kapal gagal kembali, mereka tidak rugi besar. Dengan resmi berdirinya VOC, maka ratusan kapal dagang bisa disuntik modal secara simultan, oleh ratusan investor, sehingga resiko bisa diminimalkan.

Inggris mendirikan East India Company ( EIC) pada tahun 1600, dan Belanda mengikuti dengan mendirikan VOC tahun 1602. Pakta perusahaan memberi hak untuk mendirikan benteng pertahanan ( sekaligus gudang barang), menggaji tentara bayaran, dan membuat kontrak dagang dengan penguasa- penguasa di Asia. VOC-lah adalah pihak yang pertama kali mencetuskan relasi kompleks industrial- militer ( military indu­strial complex), jauh 400 tahun sebelum Amerika Serikat membangunnya pasca Perang Dunia II, tahun 1945 kemarin.

VOC Market Caps

Kapitalisasi Pasar Perusahaan Besar dalam Sejarah

VOC dengan cepat segera menyebar ke seluruh wilayah Asia. VOC tidak hanya mengokohkan keberadaannya di Jakarta dan beberapa wilayah Hindia Belanda ( sekarang berganti nama Indonesia), tetapi juga membangun kantor di Jepang, sebagai satu- satunya perusahaan asing yang diberi izin dagang, hingga sepanjang pesisir Malabar di India, menggeser posisi Portugis di Srilanka, sampai ke Tanjung Harapan di Afrika bagian selatan, dan tentunya Asia secara keseluruhan.

Perusahaan ini selalu mampu merah hasil sukses, sampai sekitar tahun 1670, ketika VOC kehilangan pos di Taiwan, dan mulai menghadapi kompetitor kuat dari Inggris dan kekuatan lain. Keuntungan terus berlanjut, tapi VOC mulai mengalihkan komoditasnya ke barang- barang dengan selisih marjin lebih kecil, dan mereka masih mampu bertahan juga karena rendahnya tingkat bunga pinjaman modal, sepanjang tahun 1600-an.

Tingkat bunga modal yang rendah sangat membantu VOC membiayai perdagangan, lewat skema hutang. Perusahaan ini membagikan deviden dengan nilai besar, beberapa kali dimungkinkan dengan pinjaman, yang mengurangi nilai modal diinvestasikan ulang.

Dengan nilai biaya operasional yang tinggi untuk mempertahankan operasi perdagangan di Asia, mekanisme pembiayaan lewat hutang dan kurangnya likuiditas modal mulai membebani VOC. Namun, dengan kondisi semacam itu, sampai tahun 1780-an, VOC masih mennjadi perusahaan multinasional raksasa, yang operasinya membentang sepanjang Asia.

Perang keempat Inggris- Belanda pada rentang 1780- 1784 mulai merusak kondisi keuangan perusahaan. Revolusi Perancis tahun 1789, memicu pendudukan Amsterdam tahun 1795. VOC yang berstatus perusahaan swasta dinasionalisasi ( bail out) pada 1 Maret 1796 oleh Republik Batavia yang baru berdiri, dan pakta perdagangan dinyatakan kadaluarsa pada 31 Desember 1799.

Sebagian besar aset milik VOC di Asia diambil oleh Inggris setelah berakhirnya Perang Napoleon, dan EIC yang mengoperasikan semua infrastruktur milik VOC tersebut.

VOC benar- benar mengubah modus kapitalisme, setidaknya seperti yang dulu dianut oleh orang- orang di zamannya, selama- lamanya. Walaupun mekanisme penawaran saham kepemilikan perusahaan swasta sudah mulai dijalankan sebelum VOC resmi didirikan, namun VOC-lah yang memperkenalkan mekanisme pembagian resiko atau resiko terbatas, kepada pemegang saham, yang memungkinkan perusahaan untuk mendanai operasi perusahaan dengan modal raksasa. Kepemilikan dengan resiko terbatas ini dibutuhkan untuk membatasi disitanya kepemilikan pribadi investor, jika ternyata perusahaan jatuh pailit.

Walaupun inovasi sistem ini mengubah selamanya modus kapitalisme, tetap ada sisi dimana VOC gagal mengubah internalnya, yang salah satunya memicu kejatuhan. Modal dasar perusahaan tetap dalam posisi yang sama, dalam catatan keuangan, selama 200 tahun masa operasi, di angka 6.4 juta florin ( sekitar 2.3 juta USD).

Alih- alih menawarkan saham untuk mendapatkan modal segar, perusahaan mengandalkan investasi ulang diambil dari laba. Kebijakan pembagian deviden VOC meninggalkan modal yang tipis untuk investasi kembali, VOC membalik belanja modal ke mekanisme hutang. Perusahaan mulai menerbitkan surat hutang tahun 1630, yang meningkatkan rasio hutang terhadap kekayaan menjadi 2.

Rasio tetap di angka 2 hingga sekitar tahun 1730-an, dan melonjak ke angka 4 di tahun 1760-an, dan meningkat dramatis di tahun 1780-an sampai angka 18, yang memicu pailitnya perusahaan, dan mengubah status kepemilikan menjadi milik negara, nasionalisasi.

Sepanjang tahun 1600-an sampai 1700-an, Belanda memiliki nilai harga belanja modal yang terendah di dunia. Hal tersebut disebabkan oleh ide yang inovatif, yaitu jika pihak debitor mampu tepat waktu membayar hutang dengan bunga, maka pihak kreditor akan memberikan hadiah berupa tingkat bunga yang rendah, untuk periode hutang berikutnya.

Mekanisme semacam itu tidak terjadi di Spanyol, Perancis, dan raja- raja lain saat meminjamkan modal, dan tingkat bunganya relatif selalu tinggi. Atas efek dari kebijakan fiskal Belanda ini, nilai yield surat hutang Pemerintah Belanda turun dari 20% dari 1517 ke 8.5% di tahun 1600, dan 4% di tahun 1700.

Tidak hanya sebagai pihak yang memberikan tingkat bunga terendah di zamannya, Pemerintah Belanda juga mencatat rekor level bunga terendah sepanjang sejarah. Hal ini mendorong orang- orang Belanda untuk tidak cuma menanamkan modalnya di perusahaan modal patungan semacam VOC, mereka juga membeli surat hutang negara lain, yang dari situ ternyata mendorong pendanaan Revolusi Amerika tahun 1700-an.

Aspek lain yang menarik dari VOC adalah strategi deviden. Beberapa bagian dari deviden dibayarkan dalam bentuk barang, bukan uang, dan sangat bervariasi juga macamnya.

Perusahaan membayarkan deviden sejuimlah 15% dari besaran modal di tahun 1605, 75% di 1606, 40% di 1607, 20% di 1608, 25% di 1609, semuanya dalam bentuk uang. Kemudian kurang lebih 71% dalam bentuk produk selama 7 tahun, lalu 5 tahun berikutnya dalam bentuk uang 19%, 3 tahun berikutnya dalam bentuk cengkeh senilai 41%, 44% dalam bentuk rempah di tahun 1638, di tahun 1640 dua bentuk deviden senilai 20%, masing- masing 5% dalam bentuk uang, 15% berupa cengkeh. 1641, 40% dalam bentuk cengkeh. 1642, senilai 50% dalam bentuk uang. 1643, berupa cengkeh senilai 15%, dari 1644- 1672, rata- rata 21. 25% pertahun, semua dibagikan dalam bentuk uang, kecuali satu, tahun 1673, surat hutang senilai 33.5% diberikan, dibayarkan oleh Propinsi Holland, sejak 1676- 1682, 4% surat hutang bisa menghasilkan 19.5% setiap tahunnya, dari 1683- 1689, dalam bentuk uang 10%, dari 1690 sampai 1698, surat hutang yang dibayarkan 3.5% pada 1740 mampu menghasilkan 21.85% pertahun, dari 1698 sampai 1728, uang dibagikan, senilai sekitar 28.125% pertahun. Nilai rata- rata deviden di kisaran 18% dari modal awal, selama 200 tahun rentang operasi VOC. Tapi tidak ada lagi deviden yang dibagikan setelah tahun 1782.

VOC mampu menghadirkan keuntungan berlimpah bagi investor, tapi tidak selalu dalam bentuk yang diinginkan oleh pemegang sahamnya. VOC sering membongkar gudang untuk dibagikan kepada para pemegang sahamnya, memberikan produk komoditas dagang semacam cengkeh, atau rempah lain. Beberapa pemegang saham menolaknya, dan tentunya mereka tetap menginginkan alat transaksi sebagai bentuk pembagian deviden, berupa uang. Tiga perusahaan Inggris, Bank of England, EIC, dan South Sea Company, mempelajari fenomena ini, dan hanya membagikan deviden dalam bentuk uang, sejak tahun 1700-an.

Rata- rata nilai deviden, senilai 20- 30% dari nilai modal, adalah level yang tinggi, tetapi jika dilihat dari nilai 400, harga saham yang diperdagangkan, selama berdirinya perusahaan ini, seperti yang tampak dari grafik di bawah ini, nilai yield deviden sekitar 5- 7%, lebih baik dari surat hutang Belanda, tapi lebih rendah daripada surat hutang yang dikeluarkan pasar potensial lain, semacam Rusia atau Swedia.

VOC stock

Pergerakan Saham VOC 1602- 1796 ( sumber: Global Financial Data)

Tampak dari grafik diatas, harga saham dimulai di angka 100 pada tahun 1602, kemudian naik ke 200 pada 1607, sempat mengalami anjlok harga pada 1609, naik lagi ke angka 400 di tahun 1630-an. Fluktuasi keuntungan terus terjadi dari tahun ke tahun, menggelembung tahun 1720-an, saat harganya melonjak sampai angka 1000, lalu jatuh ke angka 600, bergeser naik ke 800 di tahun 1730-an, lalu pelan mulai turun. Mungkin tak ada lagi indikator ekonomi Belanda, atau ekonomi global yang lebih baik dari ini, di era 1800-an.

VOC juga mengubah Pasar Modal Amsterdam, menghasilkan inovasi- inovasi baru, semacam kontrak berjangka, opsi saham, short selling, bahkan manipulasi perdagangan saham. Isaac le Maire adalah pemegang saham terbesar VOC pada awal mula berdiri, dia yang melakukan upaya goreng saham pertama kali, melepas saham dalam jumlah besar, yang berefek pada jatuhnya harga saham, untuk kemudian dia borong lagi, sambil juga membeli saham kepemilikan tambahan.

Aksi goreng saham ini mendorong pemerintah untuk mengatur pasar saham, melarang jual kosong ( short selling) pada tahun 1621, 1623, 1624, 1630, dan 1632, begitu juga penawaran opsi saham, dan berbagai strategi keuangan lain. Fakta bahwa regulasi itu berkali- kali diberlakukan, menunjukkan bahwa peraturan tidak efektif berjalan, sering dilanggar oleh pelaku pasar saham.

Satu masalah dibalik kesuksesan jangka panjang Pasar Modal Amsterdam adalah, hanya VOC dan West Indies Company ( WIC) yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham Amsterdam. Antara tahun 1600 sampai 1800, tidak ada lagi perusahaan besar yang terdaftar selain dua perusahaan itu.

Walaupun langkah fiskal Belanda selalu menjaga hutang dan tingkat bunga rendah, hal itu ternyata turut berperan dalam pertumbuhan bursa saham Amsterdam, karena surat hutang pemerintah tak pernah diminati oleh pelaku pasar modal. Karena kebijakan desentralisasi politik di Belanda, surat hutang pemerintah dikendalikan secara lokal domestic.

Saat itu tak ada sentralisasi hutang nasional, semacam yang terjadi di Perancis dan Inggris, dan situasi ini menyuburkan pertumbuhan Pasar Modal Amsterdam. Belanda menganut desentralisasi, sedangkan Perancis sentralisasi.

Kondisi dimana VOC dan WIC sangat dominan di pasar saham, hal ini menyebabkan mereka tak pernah menjual saham baru untuk mendapatkan modal segar, dan surat hutang Belanda terlampau kecil nilainya, juga tersebar di masing- masing kota, hal ini memaksa Pemerintah Belanda untuk memutar surat hutang mereka di negara lain.

Surat kabar Belanda di tahun 1700-an kerap mengabarkan harga surat hutang Perancis di Paris, begitu juga Inggris, saham Bank of England, East India Company, dan South Sea Company di London, tapi tak ada sama sekali surat hutang atau saham di Amsterdam yang didaftarkan.

Dengan perkecualian perdagangan koloni, sampai tahun 1800-an tak ada perusahaan swasta yang selevel modalnya dengan VOC atau WIC. Modal milik Belanda yang melimpah statusnya menjadi piutang, bukan kekayaan. Amerika ke Amsterdam untuk belanja modal, begitu juga Swedia, Perancis, Inggris, Rusia, Saxony, Denmark, Austria, dan negara- negara lain. Fenomena ini membuat investor Belanda mendapat hasil berlimpah, namun tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Belanda.

Faktor lain yang menahan Pasar Modal Amsterdam untuk berekspansi adalah saham hanya bisa tercatat bulanan, atau catur wulan. Situasinya berbeda di London. Pencatatan saham dan surat hutang bisa dilakukan harian, bahkan mekanisme transfer saham juga bisa dilakukan.

Pada sisi lain, banyak saham VOC yang sama sekali tidak diperdagangkan. Akumulasi hutang Inggris dan Perancis tumbuh dari tahun 1600-an sampai 1700-an, mereka membutuhkan investor baru secara rutin. Fenomena ini menyebabkan nilai modal pokok VOC selalu konstan, dan hutang nasional Belanda tak pernah ada, sampai Belanda dikuasai oleh Napoleon. Amsterdam gagal membuka peluang untuk investor baru.

Sebelum Revolusi Industri, perusahaan berukuran terlampau kecil untuk bisa disuntik dengan modal yang layak, sehingga sahamnya bisa diperdagangkan. Perkapalan adalah bisnis yang amat beresiko, potensial menghasilkan dalam jumlah besar, juga rugi besar, sehingga investor membagi resiko dengan memodali lebih dari satu kapal dagang. Perusahaan dagang kolonial era 1600 sampai 1700-an benar- benar membawa pasar modal ke level berbeda, memungkinkan ratusan orang investor menanamkan modal di ratusan kapal dagang, dan membagi resiko investasi.

Setelah Perang Napoleon, pusat keuangan global berpindah dari Amsterdam ke London. Walaupun proses ini terjadi bertahap dalam beberapa dekade, sungguh menakjubkan bahwa pusat keuangan global bisa semudah itu bergeser dari Amsterdam ke London. Memang ada beberapa faktor lain, cenderung politis, yang itu di luar kendali Amsterdam, semacam Perang Napoleon, pendudukan oleh Perancis, dan lepasnya beberapa daerah koloni pasca perang.

Jika direnungkan lagi, ada beberapa langkah yang sebenarnya bisa diambil untuk tetap mempertahankan pusat keuangan global di Amsterdam setelah tahun 1815, walaupun kemungkinan mereka juga tak menyadari bahwa pusat itu akan berpindah ke London.

Belanda gagal melakukan diversifikasi dari VOC dan WIC, dan memungkinkan perusahaan lain untuk juga menikmati pasar modal, mereka gagal memanfaatkan surat hutang karena memang tidak ada sentralisasi surat hutang pemerintah, mereka juga gagal meningkatkan modal VOC, malah memilih untuk meminjam, menambahkan hutang yang memicu kebangkrutan VOC dan WIC. VOC dan WIC juga tidak menanamkan kembali modal untuk mengejar pertumbuhan, mereka juga gagal menawarkan saham dalam jumlah besar, yang mampu memicu perdagangan saham seperti di London.

Perusahaan gagal menambah modal yang sebenarnya sangat dibutuhkan, membatasi peminjaman modal, atau mengurangi pengeluaran modal dengan memotong deviden. Karena Belanda tidak memiliki penerbit surat hutang terpusat, semacam yang terjadi di Perancis, Inggris, dan Rusia, maka Pasar Modal Amsterdam meredup setelah VOC dan WIC bangkrut. Surat hutang asing menjadi primadona di Amsterdam, dan perdagangan surat hutang pemerintah bergeser ke London ( City of London)  tahun 1820-an, dimana modal tersedia berlimpah.

Memang agak meragukan, apakah Amsterdam mampu membaca perubahan yang terjadi saat itu, dan mungkin mereka memang tak mampu mencegah pergeseran pasar modal dunia dari Amsterdam ke London, yang terjadi setelah 1815, yang ini seharusnya menjadi bahan pelajaran bagi London. London menjadi mesin utama kapitalisme global, sampai akhirnya mereka harus kalah dan menyerahkan posisi itu ke New York ( Wall Street)  setelah Perang Dunia I. Amerika Serikat harus belajar dari sejarah berharga ini, bahwa pusat keuangan global harus tumbuh, berinovasi, dan terbuka, atau akan bergeser ke tempat lain.

Sumber

2 comments on “Modal Kompeni

  1. Dipa Nugraha
    September 4, 2014

    Apik. Seneng aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2014 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: