Usual Storyline

oeuvre

Merayakan Kematian

Ketika seorang bayi manusia dilahirkan, maka orang tua, dan keluarga di sekelilingnya akan berbahagia, mereka lega tertawa lepas menyambutnya, namun si bayi akan menangis keras dengan kencang, dia akan menghadapi hidup sebagai manusia, dan bersosial dengan sesama manusia, yang sebenarnya penuh dengan ketidakpastian dan drama berlebihan.

Lahirnya seorang bayi manusia bukanlah keinginan pribadi sang bayi, itu lebih karena keinginan manusia dewasa yang telah banyak berharap dan mengusahakan sebelumnya. Kalaupun ada bayi yang kelahirannya tak diharapkan, maka itu kasus lain.

Kegembiraan manusia dewasa atas lahirnya bayi manusia sebenarnya sangatlah bias, antara bias konfirmasi dan bias optimisme, disadari atau tidak, itu di luar kesadaran kita, karena mereka tak pernah mampu bertanya langsung ke sang bayi, apakah dia bahagia dilahirkan sebagai manusia, dan bersedia menghadapi ketidakpastian hidup yang masih panjang peluang waktunya, sedangkan orang- orang yang mengelilinginya akan mati satu persatu mendahuluinya. Sang bayi manusia tak punya pilihan, sedangkan manusia dewasa punya banyak pilihan untuk dipertimbangkan.

Dua tantangan primer mempertahankan keberadaan populasi manusia di Bumi adalah: ketersediaan bahan pangan, dan kecukupan pasangan kawin beda jenis kelamin. Pangan dibutuhkan dalam standar minimal kalori tertentu, sehingga metabolisme manusia masih bisa beroperasi, yang kita sebut dengan hidup. Pasangan kawin memperbesar peluang manusia beranak pinak, mencegah kepunahan keberadaan kita di Bumi. Dua tantangan itu untuk mengimbangi batasan penyokong elemen ekosistem di Bumi, yang segalanya serba terukur dengan jelas.

Pangan dan pasangan kawin beda kelamin ini kelihatannya sederhana ya? Tapi sejak manusia diadakan ( atau tiba- tiba ada), dan punya kesadaran di Bumi, kedua urusan ini yang menjadi titik balik lahir dan jatuhnya peradaban besar, dengan sistem sosial yang kompleks.

Manusia membangun sistem- sistem sosial nan tidak sederhana, mulai dari aturan agama, aturan adat, aturan keluarga, aturan kerajaan, hingga aturan negara, membuat penemuan teknologi, pengetahuan, dan karya cipta lain, demi cuma menjaga populasi manusia tetap ada, lahir dengan sehat, hidup kenyang bahagia, dan mati juga dengan tenang.

Kelihatannya kehidupan manusia memang sederhana ya, tapi kalau mau didalami lagi, ada beberapa bias pikiran yang membuat kita, manusia, selalu merasa tenang, bahkan bahagia dan merasa optimis, bahwa sang bayi manusia yang baru dilahirkan, hidupnya akan juga sebahagia orang- orang dewasa yang menyambutnya.

Ilusi Keberlimpahan

Kebutuhan primer penyokong hidup manusia ada skala batasannya, udara yang kita hirup ada ukurannya, kalori untuk mempertahankan metabolisme tubuh ada standarnya, baju cukup sepasang untuk menutup badan, rumah satu pun cukup untuk berteduh, dan pasangan kawin beda kelamin pun cukup seorang, jika memang cukup fertil untuk menjadi partner reproduksi.

Keinginan manusia lain lagi ceritanya, karena manusia adalah spesies yang cerdas, maka imajinasinya juga cenderung liar, tak punya batasan. Ketidakterbatasan imajinasi keinginan manusia inilah yang mendorong kita untuk minta lebih dan lebih. Belanja lebih banyak, lebih mewah, serta tentunya memproduksi lebih banyak, lebih mewah, sesuai imajinasi keinginan konsumen, yang seleranya disetir pula oleh produsen.

Tapi, kapasitas kemampuan ekosistem Bumi untuk melayani ketidakterbatasan keinginan manusia, yang sering kita sebut dengan istilah produktivitas, ada batasnya. Ada skala yang jelas bisa dihitung, walau tak semua manusia cukup punya waktu luang dan kemampuan, untuk mengukur skala daya dukung Bumi terhadap ketidakterbatasan keinginan populasi manusia.

Konsumsi energi perkapita manusia untuk hidup perharinya, itu sekitar 100 watt, dengan sokongan suplai dari radiasi matahari sebesar 174 petawatt perhari, kecuali ada rekayasa fisiologis di metabolisme manusia, maka Bumi maksimum mampu menampung 1,74.10^15 manusia hidup, dalam satu waktu bersamaan. Jumlah manusia sekarang mendekati 10^10 orang, jadi bisa 10^4 lagi manusia dilahirkan, dalam keadaan hidup, di Planet Bumi.

Tapi itu belum menghitung luasan tanah untuk bisa enak ditinggali, kapasitas air tawar yang bisa dikonsumsi secara layak, udara sehat yang nikmat dihirup, dan tentunya ketersediaan suplai makanan. Hitungan 1, 74.10^15 manusia hidup bersamaan di Bumi itu bisa ada, tapi dengan syarat manusia mau hidup berdesakan di daratan, atau mulai ekspansi untuk hidup di lautan, dan membuat inovasi pemukiman bawah laut.

Jumlah manusia hidup saat ini ( 2014) terhitung 6.7 miliar orang, dengan kapasitas tanah yang bisa ditanami dan ketersediaan air tawar layak konsumsi terhitung 12 miliar hektar ( 12 miliar global hektar/ 12 miliar gha), tidak termasuk gurun pasir dan lautan air asin, maka hitungan kasarnya, jatah perkapita saat ini adalah 1. 79 gha, jatah perorang yang bisa dimanfaatkan untuk memanen pangan dan minum air layak konsumsi. Disitu tidak menghitung spesies lain, yang tentunya juga butuh tanah air.

Jika satu manusia dibagi rata 1 gha, maka bumi bisa menampung 12 miliar manusia. Bumi mungkin mampu menampung sampai 20 miliar manusia, tentunya dengan kompensasi gaya hidup yang harus menyesuaikan. Kalau melihat realita pembagian biokapasitas Bumi perkapita, di AS saja perkapita 7 hektar, jika mau dipaksakan sama ke negara lain, maka butuh 4 Planet Bumi untuk menopang hidup 6.7 miliar manusia hidup, dan sayangnya Bumi cuma satu, entah kapan ditemukan Bumi yang lain, dan itu pun belum tentu belum ada penghuninya kan? Kalau menggunakan standar Eropa, 6 gha perkapita, maka 6.7 miliar manusia harus dikurangi menjadi 2 miliar manusia, ada yang mau menyarankan caranya?

Kalau dihitung dari jumlah biomassa di Bumi, dengan mengesampingkan bakteria, produksi biomassa Bumi terhitung 100 miliar ton pertahun, dan konsumsi pangan manusia rata- rata terhitung 1 ton pertahun, maka hitungan kasarnya, Bumi bisa menampung sampai 10^11 orang. Dengan catatan semua manusia yang tinggal di Bumi adalah vegetarian, dan bersedia memakan rumput, rumput laut, lumut, lumut kerak, ganggang laut, serta tanaman lainnya.

Peningkatan jumlah manusia hidup di Bumi bukan hanya karena manusia semakin senang kawin lalu beranak pinak ( natalitas), tetapi juga karena manusia semakin susah untuk mati tua ( mortalitas), usia harapan hidupnya relatif semakin panjang. Penyebab kematian manusia terbesar sebenarnya bukan perang saling bunuh, atau kelaparan, melainkan penyakit. Bakteri dan virus jauh lebih efektif dan efisien melakukan pembunuhan massal manusia, daripada perang. Flu Spanyol tercatat mampu membunuh 100 juta manusia sekali pukul, dibandingkan dengan ulah Hitler di Jerman ditambah genosida komunis di Indonesia yang cuma 6 juta manusia terbunuh, jelas ulah bakteri ditambah virus jauh lebih superior untuk perkara bunuh membunuh.

Penemuan antibiotik dan vaksin efektif menanggulangi wabah pembunuh massal. Maka sejak era 1960-an, pola penyakit manusia bergeser dari yang disebabkan oleh bakteri dan virus, menjadi penyakit yang disebabkan oleh penurunan fungsi metabolisme tubuh. Manusia modern seolah- olah memang mampu mengalahkan bakteri dan virus, sampai ketika titik resistensi terhadap antibiotik pelan- pelan mulai tercapai.

Kecepatan penularan wabah oleh bakteri dan virus sangat dipengaruhi oleh level kepadatan penduduk satu kawasan. Jadi jika perhitungan yang di awal tadi memang bisa tercapai, maka populasi manusia berdesakan sangat rawan mati mendadak secara massal, karena serangan bakteri atau virus dengan masa inkubasi kurang dari 24 jam. Apalagi manusia modern nampak gemar sekali menghantam penyakit dengan resep antibiotik, yang sebenarnya itu jadi pemicu utama kekebalan pihak bakteri dan virus terhadap dosis lethalnya, mereka juga spesies yang mampu berevolusi.

Persoalan ketersediaan tanah, air, udara, memang seolah terasa berlimpah, apalagi jika manusia abai dengan ukuran- ukuran ekologis yang ada. Kecenderungan manusia yang mengidap bias optimisme memang mengabaikan ukuran- ukuran itu, bukan begitu? Dan bayi- bayi manusia yang baru dilahirkan itu akan menghadapi perkara- perkara kehidupan, yang ditinggalkan oleh manusia- manusia dewasa optimis yang abai, makanya itu mungkin mereka menangis keras- keras, mungkin karena tidak terima.

Siklus Sistem Transaksi

Pola konsumsi dan produksi manusia modern dipengaruhi oleh keberadaan alat transaksi, sebut saja uang. Kendali atas keberadaan uang bisa mendorong pola konsumsi- produksi, dan di sisi lain bisa mengeremnya pula. Pola konsumsi- produksi adalah refleksi dari kondisi psikologi pelaku transaksi ekonomi, yang tidak lain adalah manusia. Sejauh ini, cuma manusia satu- satunya spesies di Bumi yang bertransaksi dengan mekanisme alat tukar.

Sepupu jauh kita nampaknya masih sibuk bergelantungan di pohon tanpa baju, cuma memang mereka punya banyak bulu. Simpanse, Gorila, dan Orangutan,  nampaknya masih belum butuh alat tukar berupa uang dalam waktu dekat ini,   kompleksitas populasi mereka masih di tahap berburu dan meramu, jadi ya kita manusia tenang saja lah.

Saat kredit mudah, bunga pinjaman kecil, produsen ramai meningkatkan kapasitas produksi dengan didukung kredit produksi, dan konsumen yang mudah mendapat kredit konsumsi, berani berbelanja lebih, bahkan membeli barang sekunder, tersier segala macam. Hidup nampak begitu optimis dan indah saat nilai pajak rendah dan nilai mata uang stabil, masa depan populasi manusia terasa begitu cerah ceria.

Optimisme akan masa depan, berupa naiknya tingkat penghasilan, tabungan di rekening, investasi di reksadana atau saham, mendorong manusia dewasa untuk membuat pilihan- pilihan konsumsi, salah satunya bagi anak bayinya. Memilih cicilan rumah, kendaraan, dan sekolah bagi masa depan anaknya, jelas manusia dewasa mempertimbangkan level pendapatan dan inflasi rata- rata. Bias optimisme ini kondisi psikologis yang tetap perlu, supaya manusia dewasa mau melahirkan anak bayi, tetap bekerja dengan tenang, dan memelihara relasi sosial dengan baik di lingkungan pertetanggaan terdekatnya.

Keadaan kemudahan kredit, pajak rendah, dan nilai mata uang stabil itu tidak selamanya. Siklus hutang jangka panjang itu sekitar 50 sampai 100 tahun, dengan mempertimbangkan masa penggunaan dan pembayaran hutang, sebelum jatuh tempo. Hutang jangka panjang ini biasa dihadapi oleh kerajaan, negara, atau korporasi multinasional, tidak semua manusia mengalaminya secara langsung. Siklus hutang jangka pendek, yang usianya antara 5 sampai 10 tahun, itu yang biasa langsung dihadapi individu manusia dewasa, yang biasanya digunakan untuk membiayai pembelian rumah, kendaraan, atau sekolah tinggi.

Kondisi optimis itu jelas bisa berubah saat mulai masa pembayaran cicilan hutang jangka panjang, apalagi menjelang jatuh tempo agregat, yang jika sebuah kerajaan atau negara atau korporasi tak mampu menanggulangi, maka ujungnya jadi buruk rupa, perang terbuka dan lalu bangkrut kolaps.

Kejayaan dan kebangkrutan kerajaan adidaya, atau negara adikuasa, dalam catatan resmi sejarah manusia, yang baru ada disepakati sejak 3890 SM di Sumeria, Mesopotamia, sampai sekarang 2014 M, sebenarnya juga tak jauh dari mekanisme siklus hutang. Saat sebuah komunitas tumbuh, mereka butuh surat hutang, sebagai alat untuk transaksi pertukaran komoditas, yang disebut uang. Semakin berkembang populasinya, mereka mulai mendirikan kerajaan dengan alat tukar resmi, yang distempel oleh raja, sebagai perlambang kedaulatan. Jadi seberapa besar keberterimaan rakyat terhadap keberdaulatan institusi kerajaan, itu bisa dilihat dari penghargaan terhadap nilai mata uang, sebagai alat transaksi resmi.

Bangkrutnya sebuah kerajaan atau negara, juga dimulai ketika nilai mata uang resminya hancur, tak lagi dipercaya sebagai alat transaksi.

Sebenarnya, setelah kejadian pembatalan Perjanjian Bretton Woods 1944, yaitu saat peristiwa Nixon Shock 1971, yang membuat nilai dolar AS bebas mengambang, tak lagi digaransi emas, maka suasana peradaban manusia menjadi nampak sangat optimis, begitu mudah mendapatkan kredit, segalanya nampak menyenangkan, terutama bagi manusia- manusia yang tinggal di negara dengan suasana politik stabil, entah sistemnya demokrasi atau oligarki. Tapi, itu ada jangka waktunya, dan sebagai sebuah siklus hutang, ada saat penggunaan, ada saat pembayaran sebelum jatuh tempo. Dihitung dari 1944, maka 50 tahun berikutnya adalah 1994 masa jatuh tempo. Jika dihitung dari 1971, maka jatuh temponya masih 2021. Tapi, pasca 1971, volume hutang begitu deras dikucurkan, tingkat bunga yang fleksibel memicu pola pasar yang dipenuhi spekulan, pedagang surat hutang punya kuasa lebih besar dibanding pemimpin resmi negara formal, dan itu jelas mempercepat jangka waktu jatuh tempo, karena rasio hutang/ pendapatan domestik bruto juga membengkak lebih cepat.

Perang terbuka semacam Perang Dunia I dan II seringkali dipicu oleh peristiwa konyol, entah terbunuhnya putra mahkota yang sebenarnya posisi dia tak terlalu penting, atau tawuran serdadu di perbatasan yang jadi pembenaran untuk melakukan ekspansi. Sebenarnya masa menjelang jatuh temponya surat hutang negara, yang diperparah oleh membengkaknya rasio hutang/ PDB, bisa diukur satu dekade sebelumnya, tapi yang namanya perang selalu butuh drama pemicu, yang efektif untuk menggerakkan psikologi massa.

Pada masa resesi menjelang jatuh tempo surat hutang negara, biasanya banyak perusahaan kesulitan modal, likuiditas melambat, banyak pemuda menjadi pengangguran, dan pemuda pengangguran biasanya jadi biang kerok masalah sosial. Kondisi domestik semacam itu tinggal butuh dipantik sedikit, sehingga mereka berbondong- bondong mendaftar jadi serdadu, dan disitu jelas terlihat, bahwa perang juga adalah metode efektif untuk menciptakan lapangan pekerjaan, bagi pemuda pengangguran yang sudah frustasi.

Bayi- bayi manusia yang baru lahir itu tak punya pilihan, apakah mereka dilahirkan di negara dengan indeks kualitas manusia tinggi atau rendah, di negara yang menjadi kreditor atau debitor, di negara yang pendapatan perkapitanya tinggi atau rendah, di negara yang sedang damai sejahtera atau perang porak poranda. Manusia dewasalah yang punya mau membangun sistem sosial, menentukan siklus hutang, membikin drama perang karena tak mampu bayar hutang, dan bayi- bayi manusia itu tak punya pilihan semacam mereka, maka mungkin karena itu juga mereka menangis keras- keras, karena tidak terima.

Bumi Manusia

Bias optimisme manusia seringkali mendorong kita untuk menghindari fenomena kematian, seolah kematian itu mengerikan dan menyedihkan, maka tak jarang digambarkan simbol- simbol yang menyeramkan, sebagai refleksi ketakutan manusia atas kematian. Bias optimisme pula yang mendorong manusia dewasa untuk berbahagia, atas kelahiran bayi- bayi mungil, berharap bahwa hidup mereka juga akan bahagia. Bahwa kelahiran dan kematian adalah siklus alamiah, manusia rasional pun biasanya abai dengan pola ini. Manusia mengharapkan kelahiran bayi, namun menghindari kematian, sungguh teramat bias.

Agenda manusia sejak awal dulu diberikan kesadaran diri, sebenarnya sederhana, yaitu kecukupan pangan dan kecocokan pasangan kawin beda jenis kelamin. Dalam rangka menjamin dua kebutuhan elementer itu, manusia berinovasi membangun sistem sosial, dari desa sampai negara. Maka fungsi sistem negara sebenarnya secara prinsipil cukup sederhana, itupun seringkali gagal.

Jikalau melihat perilaku para penguasa- politisi yang bekerja hanya untuk mempertahankan posisi kuasa, pemuka agama yang gemar menjual ayat suci mempermainkan umatnya, periset yang meneliti sesuai ketersediaan dana, perekayasa yang pakarnya cuma merekayasa laporan keuangan, pedagang yang memonopoli pasar uang, petugas medis yang senjata andalannya meresepkan antibiotik, dan penegak hukum yang gemar mempermainkan warga sipil pembayar pajak, lalu untuk apa mempertahankan sistem sosial semacam ini? Karena bergabung dengan peradaban sosial kompleks, seukuran negara atau kerajaan, sesungguhnya adalah atas kerelaan pribadi, manusia punya kemampuan untuk hidup soliter, jika memang itu yang menjadi pilihan jalan hidup.

Jika soliter terlalu ekstrem dan terkesan asosial, bisa pula membangun kelompok yang terpisah di area pedalaman hutan, pesisir, atau pegunungan, makan dari yang ditanam dan diternak sendiri, hidup harmoni dengan alam sekitar, serta membatasi ketat jumlah kelompoknya, antar generasi.

Melahirkan bayi manusia harus diimbangi dengan merayakan kematian manusia lanjut usia. Manusia dewasa yang mati menyediakan ruang hidup yang lebih layak untuk generasi baru, bayi- bayi manusia yang baru dilahirkan. Tapi manusia dewasa pun harus mempersiapkan bayi- bayi mungil itu untuk menghadapi ketidakpastian, karena setiap zaman punya anaknya masing- masing.

Kematian harus dirayakan, karena itu berarti selesai pula drama kehidupan yang melelahkan, dan akhirnya diberi kesempatan untuk beristirahat dengan tenang. Urusan kehidupan di Bumi, biar giliran diurus nanti oleh bayi- bayi mungil itu kelak, dan semoga mereka terima tanggung jawab untuk mengurus manusia Bumi, itu pula yang mungkin membuat mereka menangis.

Bumi punya mekanisme untuk mengatur kehidupan, dan mekanismenya jauh lebih layak untuk dirayakan. Gempa bumi, gunung meletus, hujan meteor, dan tsunami jauh lebih efektif menghadirkan kematian massal bagi populasi manusia, dibanding serangan bakteri dan virus, dalam sekali pukulan. Bumi setidaknya tercatat sudah 5 kali mengalami puncak populasi dan dilanjutkan pemusnahan massal, mungkin untuk menata ulang kehidupan. Apakah mekanisme pemusnahan massal oleh Bumi itu adalah sebuah proses kesadaran atau acak semata? Entahlah, mungkin bayi- bayi manusia yang baru dilahirkan itu akan menemukan jawabannya, dan mungkin itu pula yang membuat mereka menangis, karena harus mengamati perilaku Bumi.

Bayi

Bayi

Merayakan kematian sambil menghargai lahirnya kehidupan baru, mungkin itu yang membuat manusia jadi manusiawi. Lahir dan hidup sebagai manusia, ya sudah hadapi kenyataan saja.

One comment on “Merayakan Kematian

  1. Jenggot Uban
    November 21, 2014

    Luar biasa. Berulang kali dibaca, masih tetap menarik. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2014 by in Review and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: