Usual Storyline

oeuvre

Takhayul

Ilmu Titimangsa Kejawen dan Ilmu Astrologi Tionghoa klasik menggunakan basis logika induktif sebagai metodologi membuat hipotesis. Determinan relasi ruang ( geografis, topologis) dan waktu ( bulan, hari, tahun) didata, keduanya adalah pola alam, lalu determinan relasi manusia ( kelahiran, kematian, laba, rugi) juga didata. Dalam ruang tertentu ( wilayah kerajaan), waktu tertentu ( dasawarsa/ windu), data fenomena alam digabungkan dengan data fenomena relasi manusia, lalu dibuat hipotesis bernama Pranata Mangsa dan Feng Shui/ Hong Shui, itu basisnya statistik klasik.

Pedoman itu punya probabilitas liyan/ pencilan/ outliers. Formula akan berubah saat determinan berubah, jika berpindah dimensi ruang/ waktu ( migasi) dan ada manusia pemegang otoritas yang berinovasi memihak ke data pencilan/ outliers.

Logika induktif juga potensial dipakai untuk membuat agama ( religion) baru, karena menyangkut sistem tata kelola komunal.

Logika deduktif dimulai dari hipotesis lalu memunculkan fakta baru, logika ini dipakai oleh disiplin matematika, logika yang menciptakan realitas baru, karena matematika memang ilmu imajinatif. Inovasi sains, rekayasa, teknologi, ekonomi, dan sistem akuntansi moneter negara modern, yang notabene alat bantunya adalah matematika juga, didominasi oleh hasil logika deduktif ini, maka orang yang merasa bahwa Titimangsa Kejawen/ Astrologi Tionghoa itu sudah obsolete, melabelnya correlation doesn’t imply causation ( berhubungan tapi bukan relasi sebab- akibat).

Logika deduktif juga potensial untuk memahami ketidakpastian logika keTuhanan, karena individu manusia yang membentuk konsensus determinannya. Beberapa orang pintar produk sekolahan melabel ilmu- ilmu klasik itu sebagai takhayul/ superstitious ( syirik musyrik bin haram jaddah calon kerak neraka), tanpa berusaha memahami konteks zaman, bagaimana ilmu pengetahuan itu hanyalah efek dari cara manusia untuk bertahan hidup ( survival for life), sangat dinamis.

Matahari biasanya terbit dari horizon timur, sejak lahir sampai saat ini kebiasaan itu belum pernah berubah drastis, maka manusia pengamat membuat kesimpulan, bahwa matahari niscaya besok juga akan terbit di horizon sebelah timur. Pengamat yang melakoni hidup malam ini dengan optimis bahwa besok pagi matahari tetap akan terbit dari timur, sedang menjalani nalar induktif.

Jika ada manusia pengamat yang tiba- tiba berpikir bahwa ada peluang matahari terbit berlawanan arah, dari hemisfer barat, lalu mencari sebab akibat pergerakan matahari, dan yakin bahwa ada probabilitas perubahan arah terbit matahari, ke arah barat, maka si pengamat ini sedang melakoni hidup dengan nalar deduktif.

Saat memahami beda metodologi bernalar ini, maka si manusia pengamat mendapatkan pengetahuan tentang pola rotasi dan revolusi Planet Bumi, bahwa Bintang Matahari ternyata diam saja relatif terhadap Bumi, bahwa ternyata ada planet selain Bumi, mendapat informasi tentang peluang terjadinya titik entropi, ketika pola mekanis rotasi dan revolusi berhenti lalu berbalik arah, sebuah pola sebab akibat kompleks dan butuh perhitungan lebih seksama.

Sedapnya nalar ini memang akan sangat bisa dinikmati, saat manusia pengamat mau dan mampu mempertemukan nalar induktif dengan nalar deduktif, bukan malah membenturkan lalu mencari mana yang paling benar. Menghakimi salah satunya takhayul, dan salah satunya lagi delusional, bukan aksi nalar yang direkomendasikan, itu sama sekali kurang begitu sedap.

Manusia modern terdidik juga seringkali melakukan sesat nalar ( logical fallacy), ketika membenturkan pakem klasik tradisional, yang dominan induktif, dengan inovasi sains- teknologi, yang dominan deduktif, tapi tidak berusaha mencari titik temu yang lebih bisa diadaptasikan dan didamaikan.

Manusia urban modern suka dengan logika deduktif karena metode “survival for life” yang tidak bergantung ke alam, cepat berubah sesuai inovasi produk dan angka di rekening. Manusia rural tradisional suka dengan logika induktif karena hidupnya masih bergantung ke alam, tak banyak berubah dan tak punya rekening bank. Sekali- kali cobalah piknik, membaca peradaban. Kurang piknik itu bikin orang jadi mudah sumpek, gampang marah kalau baca status Facebook atau Twitter. 

Roulete Wheel

Roulete Wheel

Selama belum mampu menggunakan dan membedakan basis logika induktif dan deduktif, sampai ke dimensi sosial atau ekonomi riil, tidak ada gunanya pasang gelar akademik berjejer di belakang nama KTP, kecuali buat mengungkit ( leverage) diri di depan mertua, media, atau presiden ( biar diangkat jadi menteri, buat cari kerjaan lah)

6 comments on “Takhayul

  1. edwinlives4ever
    October 31, 2014

    Two centuries from now Einstein’s relativity theory will be another superstition…

  2. darusetiawan
    October 31, 2014

    sesuatu itu butuh rasionalitas, atau penjelasan. Kalau memang masih abu2 atau nggak cetho, ya dijelaskan alasan rasional nya…
    Bukankah dikatakan jahiliyah jika sesuatu yang belum ditanggap rasional logika otak nya, trus dipercaya ?
    atau gimana ya ?

  3. S™J
    October 31, 2014

    Percaya bahwa duit itu rejeki menurut saya takhayul:mrgreen:

  4. S™J
    November 6, 2014

    Reblogged this on Halte Perjalanan and commented:
    Orang lahir ke dunia itu mengalami dulu, baru belajar menalar soal apa yang telah dialaminya. Tapi manusia bisa mencipta realitas baru, yang melahirkan imajinasi. Jadi, (mungkin) logika induktif itu pengalaman dan pengamatan dulu baru dinalar, sedangkan deduktif adalah berimajinasi dulu lalu berusaha diwujudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 31, 2014 by in Review and tagged , , , , , , , , , .
%d bloggers like this: