Usual Storyline

oeuvre

Kurs Tribal

Ikatan sosial itu dibangun atas dasar hutang. Hutang budi anak ke orang tua, murid ke guru, warga muda ke tetua, tetua ke raja, raja ke dinasti pendahulunya. Ada hutang yang harus dibayar, sehingga neraca akuntansi etika sosial itu seimbang, orang pintar produk sekolahan menyebutnya standar moralitas. Ikatan tribal itu dibangun antar manusia, antar generasi, jadi budaya.

Jika ada orang di masyarakat tribal yang dipukul sampai cedera, maka si korban punya piutang, dan pelaku pemukulan punya hutang. Hutang piutang harus dilunaskan dengan korban memukul pelaku pemukulan, sampai di level cedera yang sama, atau dengan duel, hutang dibayar lunas. Itulah akuntansi sosial, nilai tukar dengan kurs tribal. Majelis duel identik dengan tribal, karena itu soal pelunasan perkara hutang- piutang antar individu, berupa hutang tamparan, hutang tonjokan, piutang tendangan, atau piutang bacokan.

Jika ada orang tribal yang hampir tenggelam terbawa arus sungai lalu ditolong, dan dia malah marah ke penolongnya, maka jangan heran. Penolong itu sedang menciptakan piutang, dan si korban yang ditolong jadi berhutang. Hutang level ini dalam kurs tribal punya nilai tukar tertinggi, maka wajar jika si orang yang ditolong malah marah, neraca dia jadi minus, hutang bernilai besar, mati saja lebih baik, karena susah melunasinya, hutang nyawa seumur hidup!

Kurs tribal ini bermasalah di nilai antar orang yang beda suku, beda agama, karena beda juga standar moralnya. Ada suku yang nilai tukarnya tinggi jika dibandingkan suku lain, misalnya disakiti secara psikis, atau dipelototi, tapi dibalas dengan kontak senjata saling mematikan, itu sering kejadian dengan transaksi kurs tribal.

Beda nilai tukar antar tribal, akan terlihat saat terjadi persinggungan. Persinggungan bisa memicu konflik, atau koalisi, tergantung dari konvergensi nilai tukar. Ada kurs tribal yang menghargai tinggi kanuragan, ada yang intelektualitas, ada yang ketegasan, ada pula yang kehalusan, sangat beda nilai tukarnya. Maka budaya suku- suku di Indonesia masih mempertahankan selamatan, kenduri, antar suku, karena itu adalah upaya meminimalkan konflik atas sebab beda nilai tukar.

Alat transaksi ekonomi modern yang dimanifestasikan ke mata uang fisik, punya nilai intrinsik, punya nilai nominal, sebenarnya masih mengandung filosofi dan standar moral tinggalan kurs tribal purba. Bahwa yang namanya hutang di satu sisi, akan menimbulkan piutang di sisi lain, dan etika moralnya harus dibayar lunas. Mata uang yang kita pakai sehari- hari adalah pengembangan sistem mata uang tribal, basisnya juga sama hutang sosial antar manusia. Sistem ekonomi yang terlepas dari budaya sosial itu cuma menunggu waktu lepasnya ikatan antar manusia.

Alat transaksi ekonomi modern, uang, juga punya nilai kurs. Suku yang nilai tukarnya lebih tinggi dibanding suku lain, punya potensi lebih superior, karena punya daya beli yang lebih tinggi, dan daya beli menentukan peluang memiliki benda atau aset produksi. suku lain yang lebih inferior nilai tukarnya.

Orang- orang zaman dulu ada yang sudah memahami pola sistem kurs tribal ini, lalu mencegah konflik antar kelompok tribal karena beda nilai tukar, mencoba membangun konvergensi moral antar kelompok tribal, menyatukan sistem nilai tukar kurs itu, sehingga tercipta kedamaian antar ikatan sosial masyarakat.

Orang- orang ini beberapa tercatat di kitab suci beberapa agama, atau naskah- naskah peradaban kuno, beberapa disebut sebagai nabi, atau orang suci.

Nabi atau orang suci di naskah- naskah kuno itu, tidak cuma sebatas mengurus standar moralitas publik, tapi juga mekanisme nilai tukar, kurs alat transaksi, keseimbangan kemampuan daya beli masyarakat manusia, karena disitulah poin penting yang sering jadi alat penindasan sebagian manusia, terhadap manusia lain, manusia membeli sesamanya untuk diperbudak.

Budak di kalangan tribal sebenarnya adalah kreditor yang terpaksa menjaminkan dirinya sebagai kolateral, karena tidak punya aset.Karena mereka tak mampu bayar hutang, maka diri merekalah yang disita, dan boleh digunakan oleh pemilik piutang. Gladiator Romawi yang kelihatan keren jago duel, mereka hanyalah orang- orang yang terlilit hutang, disita, dan dijadikan sirkus tontonan penghibur, atau bisa juga mereka adalah pampasan perang, jadi suku kalah perang, dan diri mereka disita. Mereka yang jadi budak hanyalah menghormati kontrak moral, bahwa hutang harus dibayar. Hutang tak terbayar juga karena ada bunga berbunga. Maka jangan kaget, sistem budak dan sistem riba itu komplementer.

Mencetuskan kesamaan standar moral, bahkan memaksakan ke hukum formal negara, tapi tidak memahami beda nilai tukar antar kelompok sosial, dan kurs tribal masyarakat modern, atau disparitas daya beli antar individual, itu sama saja meneladani nabi atau orang suci di naskah kuno cuma dari satu sisi sempit. Seolah- olah menciptakan kebaikan, padahal cuma menimbun api dengan tumpukan sekam, yang cuma menunggu waktu saja buat terbakar hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 17, 2014 by in Concept and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: