Usual Storyline

oeuvre

Pelakon

Narasi yang diceritakan oleh pengamat akan selalu lebih heboh dan lebih renyah dinikmati pembaca, daripada narasi yang dibuat oleh pelakunya langsung.

Pengamat membangun narasi dari hasil pengamatan sisi luar peristiwa, dengan bahasa yang merupakan campuran antara pandangan individual, serta mungkin informasi lain, yang sudah masuk sebelumnya, dalam memori si pengamat. Campuran antara pengamatan obyektif dan kecerdasan subyektif si pengamat akan menghasilkan narasi yang lebih heboh, lebih kaya sudut pandang, dan lebih mampu digandakan sekaligus diterima di benak pembacanya. Pengamat lebih mampu menarasikan detail sebab akibat, fungsi otak besarnya ( cerebrum) mengumpulkan serpihan kecil menjadi gambaran besar yang saling berkaitan.

Pelaku yang membangun narasi atas dasar pengalaman pribadinya, akan membangun konstruksi sesuai apa yang dia alami langsung. Sudut pandangnya singular, dan dia terlalu disibukkan untuk fokus hanya pada masalah yang ada di depannya, tanpa mampu melihat keseluruhan peristiwa yang terjadi, dan saling berhubungan sebab akibat. Narasi pelaku akan lebih sederhana, konsisten, teknis, dan kemungkinan, buat pembaca, cita rasanya tidak semenarik narasi dari sudut pandang pengamat. Pelaku lebih mampu menarasikan detail aksi reaksi, fungsi otak depan ( frontal lobe) dan sumsum tulang belakang ( spinal cord)  bereaksi cepat atas aksi yang dihadapi saat itu, di ruang itu.

Pembaca yang membandingkan narasi buatan pengamat dan pelaku, kemungkinan besar akan menikmati versi pengamat, karena seolah- olah mampu melihat keseluruhan sebab akibat yang melingkupi terjadinya sebuah peristiwa, sering disebut dengan gambaran besar. Narasi versi pelaku akan cenderung sempit, teknis, hambar, tak ada drama, tapi memang begitulah kejadian yang sesungguhnya, gambaran kecil namun nyata adanya.

Pembaca akan lebih jatuh cinta dan merasa terinspirasi oleh narasi versi pengamat, mereka membangun cita menjadi pelaku dalam narasi yang dibangun oleh pengamat, tapi jarang yang bisa menyelami sisi pengalaman pelaku yang sebenarnya. Jebakan bias ini selalu berhasil membius pembaca untuk menikmati imajinasi hasil delusinya sendiri, delusi yang dibangun oleh deviasi konstruksi narasi si pengamat.

Narasi pengamat sepak bola selalu bias dengan narasi pelaku permainan sepakbola, narasi ilmuwan pengamat lingkungan selalu bias dengan narasi pelaku ilmuwan penjelajah hutan gunung dan kutub, narasi pengamat ekonomi makro selalu bias dengan narasi pelaku pasar riil, narasi hakim selalu bias dengan narasi pelaku kriminal, atau korban kriminalitas. Bias itu biasa dalam perilaku interaksi sesama manusia, disitulah terjadi bentuk kecerdasan manusia yang sesungguhnya, kecerdasan penggunaan bahasa, atau menarasikan konteks menjadi teks.

Posisi pengamat dan pelaku ini bisa terjadi dalam satu individu yang sama, tapi tidak dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Jika seorang manusia sedang menjadi pelaku, bisa jadi di lain ruang dan waktu dia berganti posisi menjadi pengamat, dan bertambah pula sudut pandangnya, menjadi lebih kaya rasa.

Sayangnya, tidak semua manusia punya probabilitas yang sama, untuk pernah mengalami status sebagai pelaku dan pengamat. Celah persepsi yang menimbulkan bias yang membius, delusi akibat deviasi narasi, adalah percikan api yang selalu mampu menciptakan pembakaran konflik, menghanguskan hubungan antar manusia.

Maka jika ada manusia yang diberikan kesempatan untuk pernah menjadi pelaku sekaligus pengamat, pelakon sekaligus penonton, untuk membagi gambaran yang sebenarnya, sesederhana yang bisa dimungkinkan, dengan bahasa manusia yang diajak bicara, agar sebisa mungkin tak perlu terjadi konflik yang membakar habis hubungan antar manusia.

Sang Penguasa Probabilitas semesta memang sudah memberi kesadaran diri pada manusia, semua manusia diberi peluang yang sama menjadi para pelakon dan penonton, tapi tak semua manusia bisa merasakan kesamaan peluang itu, bahkan ada manusia yang sengaja menutup peluang sesamanya untuk bisa mengalami dua peran itu, atau ada manusia yang sudah merasa cukup menjadi manusia saja, apapun peran yang dialami.

Sang Penguasa Probabilitas semesta menempatkan manusia menjadi pelakon sekaligus penonton, dalam probabilitas yang sama, entah itu disadari atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 17, 2014 by in Review and tagged , , , , , , , , .
%d bloggers like this: