Usual Storyline

oeuvre

Uang Bukan Rezeki

Konsep rezeki secara umumnya memang lebih ” bias ekonomi”, perspektif ekonomi jauh lebih dominan dibanding ekologi. Bias ekonomi ini bisa dimaklumi, karena memang manusia modern bertahan hidup ( survival) dengan medium alat tukar berupa uang ( bank notes), yang sebenarnya adalah sebuah surat hutang.

Secara pengalaman empiris, lebih mudah memang untuk seorang manusia, survival di area rural, atau hutan gunung, dibandingkan di area urban perkotaan, yang untuk kencing atau berak sekalipun, manusia butuh uang untuk bisa masuk kamar kecil.

Sebenarnya, jika saja manusia mampu meluangkan waktu sejenak untuk mendalami perspektif ekologi, dan agak sedikit menjauh dari perspektif ekonomi, maka ada banyak, berlimpah ruah, berbagai rezeki yang membuat manusia bisa survival di Planet Bumi. Hanya saja, mendalami ukuran- ukuran rezeki ekologis ini memang sebuah jalan sunyi nan temaram, jauh beda dengan ukuran- ukuran rezeki ekonomis yang riuh rendah dan hingar bingar penuh gemerlap cahaya.

Setiap menit, setiap manusia hidup di Bumi, lazimnya menikmati kurang lebih 8 liter udara ( 60 detik), atau jika dihitung agregatnya, sekitar 11,000 liter udara perharinya ( 24 jam). Udara yang kita hisap dengan sedap ini memiliki kandungan 20% Oksigen, dan kita buang lagi dengan tanpa terasa sekitar 15% Oksigen, yang berarti hanya sekitar kenikmatan 5% Oksigen yang kita gunakan dalam metabolisme tubuh, untuk kemudian dikonversi menjadi Karbondioksida. Agregat perharinya, manusia lazimnya di Bumi menikmati 550 liter Oksigen murni, dengan gratis dan tanpa membayar, bahkan tanpa ditarik pajak.

Setiap harinya ( 24 jam), setiap individu manusia Bumi membutuhkan daya sekitar 100 watt, dengan sokongan suplai dari radiasi Matahari sebesar kurang lebih 174 petawatt perharinya. Kondisi yang berlebihan ini yang membuat radiasi Matahari mungkin jarang sekali dihitung, karena gratis mungkin ya, jadi secara perspektif ekonomi tak punya harga sama sekali. Mungkin jika energi fosil sudah langka, mulai spesies kita yang sering lupa berhitung ini bergeser memanfaatkan radiasi Matahari, entah kapan.

Elemen biosfer ketiga yang punya ukuran tapi jarang dihitung, adalah air tawar. Hanya ini ditempatkan terakhir, karena nilai keberlimpahan air tawar yang lezat ini mulai terkorupsi oleh perspektif ekonomi, terutama pada area- area yang mengalami kelangkaan suplai. Ketersediaan air tawar dan tanah yang layak dinikmati dan mampu ditanami saat ini adalah 12 miliar hektar, dengan jumlah manusia hidup sekarang 6.7 miliar ( dan terus bertambah), maka jatah perkapitanya sekitar 1. 79 gha ( global hektar).

Sayangnya ya itu tadi, kepadatan populasi manusia tidaklah sama di masing- masing habitatnya. Ada area yang padat penduduk tapi langka air tawar dan tanah subur, tapi ada juga yang sebaliknya. Disparitas ketersediaan air tawar dan tanah subur inilah, yang menjadikan keduanya jadi punya nilai ekonomis, dan tentunya bisa ditransaksikan.

Alat Tukar

Manusia berdoa kepada sesuatu yang tak terlihat, namun dianggap pencipta dengan kesadaran tertinggi ( Tuhan), biasanya untuk memohon keberlimpahan rezeki. Jika sudah berlimpah rezeki semoga tak jadi miskin, dan jika kekurangan rezeki, semoga bisa cepat naik kelas, mobilitas vertikal, menjadi lebih kaya. Nah, rezeki dalam bahasa yang dipanjatkan dalam doa- doa ini, ternyata memiliki kemiripan yaitu: uang.

Uang adalah alat tukar, sebenarnya levelnya belumlah sesuperior udara, cahaya matahari, dan air tawar, untuk bisa didefinisikan sebagai ” rezeki”. Namun sekali lagi, manusia modern yang ( katanya) 60% akan berhabitat di kawasan urban, memiliki ketergantungan luar biasa terhadap alat tukar, untuk membeli berbagai fasilitas pendukung survival mereka ( kita).

Uang diciptakan sendiri oleh manusia sebagai bentuk praktis dari surat hutang. Dalam hutang piutang, tentunya ada pihak pemberi hutang/ pemilik piutang ( kreditor) dan penerima hutang (debitor), artinya it needs two for tango buat urusan menciptakan uang. Urusan uang adalah urusan yang sangat manusiawi, karena hanya spesies kita mampu menciptakan uang, sedangkan urusan fasilitas rezeki riil semacam Oksigen, cahaya matahari, dan air tawar, sangatlah universal, sangat manusiawi, sangat hewani, dan sangat nabati, bahkan justru tumbuhan ( nabati) lah yang punya peran paling penting.

Kota atau urban, adalah habitat yang kompleks dan sekaligus artifisial. Manusia membangun kota dengan fasilitas pendukung berupa sanitasi, drainase, sumber air tawar, pembangkit energi, jalan raya, telekomunikasi, dan penyedia makanan, yang semua membutuhkan mekanisme ekonomi, untuk bisa bergerak dengan sehat walafiat. Uang harus bergerak dalam arus yang sehat ( currency), jika sebuah populasi manusia ingin membangun peradabannya.

Ekonomi modern bergerak dalam mekanisme transaksi antar manusia, interaksi dinamis dalam kesalingtergantungan, yang memungkinkan spesies kita untuk tumbuh berkembang, beranak pinak, lestari dengan bahagia di Planet Bumi nan indah ini.

Manusia modern yang sudah nyaman beradaptasi dengan habitat yang serba artifisial, dengan tentunya harus membayarnya dengan alat tukar satuan tertentu, akan susah untuk beradaptasi dengan habitat yang jauh lebih natural. Di habitat urban modern, air, makanan, energi, dan buang hajat pun sudah ada fasilitasnya, tertata dengan sedemikian rapi, dan mahal tentunya.

Urban Jakarta

Bermigrasi dari habitat urban modern ke habitat yang jauh lebih natural, tanpa fasilitas pendukung artifisial, tentunya akan susah membayangkan manusia modern beradaptasi untuk berburu paus buat sarapan, berburu babi hutan demi makan malam, atau berak dengan meniru kucing, di area terbuka lalu gali tanah dulu, habis itu ditimbun lagi, serta minum air tawar dari sungai langsung, tanpa dimasak duh …

Manusia modern yang tinggal di habitat urban modern, jelas survival rate-nya bergantung pada kepemilikan alat tukar, karena segala fasilitas pendukung kehidupannya harus dibeli, tidak gratis, dan itupun masih dipungut pajak pula. Tanpa uang, daya survival manusia akan berkurang drastis, jika area hidupnya adalah urban modern.

Walaupun ya ada sebagian kecil manusia, saudara sespesies kita, yang lebih memilih untuk hidup di hutan gunung, menolak inovasi alat tukar berupa uang, lebih memilih ekonomi tribal dengan pertukaran barang sebagai alat tukar, namun mereka jelas amat bahagia dengan kenaturalannya.

Lamalera

Pemburu Paus Lamalera

Manusia yang lebih memilih melestarikan gaya hidup nomaden, dengan bergantung pada kealamiahan suplai penyokong daya survival, memang memiliki keterbatasan berupa limit penambahan populasi. Maka janganlah heran, bahwa manusia modern lebih cepat meledak jumlahnya, dibanding suku- suku tribal pedalaman yang cenderung menjaga jumlah anggota populasinya.

Konsep rezeki yang mendefinisikan secara ekonomi, berupa alat tukar, juga mengandung ” bias probabilitas”. Apa itu? Ya, karena tingkat kemakmuran dan daya beli tidaklah individual, manusia yang lahir di negara dengan GDP raksasa namun manusianya ogah berkembang biak, tentunya akan punya pendapatan perkapita lebih besar rasionya, jadi terlihat lebih ” diberkahi” oleh Tuhan, dibanding dengan manusia- manusia yang lahir di negara dengan GDP miskin, tapi manusianya gemar sekali berkembang biak, jadilah pembaginya lebih besar, jadilah angka reratanya kerdil.

Populasi manusia yang meledak karena kemudahan mendapatkan surat hutang ( kredit), juga melahirkan masalah baru, apa itu? Ya kecepatan penambahan suplai makanan tidaklah secepat kecepatan manusia beranak pinak, dan potensial menimbulkan bencana kelaparan. Maka ya itu, manusia berinovasi, tapi tetap ada titik jenuhnya, ketika setiap inovasi di peradaban populasi spesies kita, menemukan tantangan baru, dan anehnya, kok selalu saja begitu ya?

Jadi ya sebenarnya rekayasa rezeki dalam perspektif ekonomi itu murni inovasi spesies kita saja sih. Kalau merasa berlimpah atau merasa berkekurangan, ya coba tengok lagi ke sistem yang menjadi habitat tempat hidup kita, apa ada yang salah, atau sudah di jalur yang benar.

20130713_pkl-tanahabang_9572

Metode Survival Urban, Dominasi Perdagangan

Jadi ya sebaiknya tidak melulu menyalahkan Tuhan juga lah, siapa tahu itu salah sesama spesies kita sendiri, ada yang rakus dan cerdas, ada yang bodoh dan pasrah, serta ada yang tahu tapi tetap membiarkan. Sewot juga Dia kalau melulu disalahkan, padahal itu kesalahan spesies kita sendiri sebenarnya ya? Sudah dikasih gratis Oksigen sama cahaya matahari, tapi menyalahkan Tuhan karena kurang koleksi alat tukar di rekening, wah itu manusiawi banget.

Kalaupun mau bersyukur ke Tuhan, mungkin lebih asyik menggunakan perspektif ekologis, buat menghitung udara yang lezat, cahaya matahari yang hangat, dan air tawar segar yang menjadi bahan tubuh kita buat survival.

Soalnya, kalau rezeki didefinisikan ke perspektif ekonomi, bawaannya senewen, karena saking cerdasnya spesies kita ini, kita cenderung untuk bersaing saling menjatuhkan, atau berkompetisi untuk menjadi yang paling kaya serta berkuasa, yang merasa kalah jadi lah lupa bersyukur. Bahkan seringkali ada juga pemuka agama yang menyarankan umatnya bersyukur, dengan cara melihat yang kurang ” beruntung”, maksudnya lebih miskin uang.

Kalau buat bersyukur ke Tuhan ( kalau percaya Dia ada) harus melakukan komparasi isi rekening, ya sudah pasti populasi penduduk negara yang abal- abal bin melarat tak akan pernah bersyukur seumur hidupnya, lha membandingkan dengan manusia mana lagi, lha mereka sudah yang kelas sosialnya di level paling keblangsak

Atau buat populasi manusia yang terjebak dalam kemiskinan struktural, ketika mereka tak mampu melakukan mobilitas sosial vertikal karena sistem moneter yang tidak memberikan peluang, apakah mereka lalu tak berpeluang juga buat bersyukur? Karena manusia yang terjebak dalam kemiskinan struktural, juga akan melahirkan generasi yang masuk lubang jebakan itu- itu lagi. Kemiskinan struktural itu juga murni permainan sistem buatan manusia, kembali ke manusianya lagi, mau memperbaiki sistem buatannya itu, atau tidak.

Tapi kalau mau sejenak saja berhitung menikmati sedapnya 550 liter Oksigen murni, perhari, tanpa pajak dan tanpa bayar, nah itu semua manusia di Bumi jatah subsidinya sama, berapapun isi rekening banknya.

Imajinasi Sorga

Tak perlulah manusia Bumi mengkhayal bermimpi mau minta sorga, suplai rezeki gratis berlimpah, tanpa palakan pajak, buat survival di Bumi saja kita sering lupa menghitung, apalagi berterima kasih. Rasanya kok ya amat sangat ngelunjak banget lah minta dimasukkan ke sorga, seperti kita manusia ini tak pernah belajar matematika diskrit dan diferensial saja, malu lah. Sorga itu di galaksi yang mana sih ya? Dimensi keberapa?

Kalaupun ada pemuka agama yang bilang semakin bersyukur maka nikmatnya akan ditambah, lha iya lah, lha wong pas otak manusia bersyukur, mulutnya berdzikir pun, semuanya butuh asupan Oksigen gratis ke otaknya, kalau tidak ya tak mungkin metabolisme organis spesies kita beroperasi. Bahkan saat aktivitas bersyukur pun, manusia tetap menggunakan fasilitas rezeki gratisan ya, dan itu tidak tergantung isi rekening banknya.

Uang memang bukan rezeki, karena uang sebenarnya adalah alat tukar. Urusan yang sangat manusiawi, tidak hewani, dan bukan nabati. Cuma manusia lah, dari sekian spesies organik, baik yang vertebrata maupun invertebrata, yang mengenal uang dan merindukan deretan digit terus menambah di rekeningnya.

Ngomong- ngomong apa Anda percaya Tuhan itu tidak ada? Atau tidak percaya Tuhan itu ada? Percaya tidak percaya, ya itu urusan Anda saja lah ya. Toh jatah Oksigen, cahaya matahari, dan air tawar tak bakal dikurangi, beda urusan dengan manusia, tak bayar pajak bisa dimatikan suplai air tawar dan dicabut meteran listriknya, duh.

Eh tapi kepada pihak mana manusia sebaiknya ” berterima kasih” atas melimpahnya elemen pendukung kehidupan primer di Bumi ini ya, jika tidak percaya Tuhan itu ada, atau percaya kalau Tuhan itu tidak ada? Memahami bahwa Oksigen dihasilkan dari mekanisme Daur Krebs dalam Fotosintesis, tidak serta merta membuat manusia jadi paham, kalau protokol sehebat itu ” mungkin” ada yang memilikinya.

Ah, sudahlah ya. Dasar manusia …

~ Ramadhan 1436 Hijriah

11 comments on “Uang Bukan Rezeki

  1. wager
    June 23, 2015

    Seperti biasa, artikelnya selalu menarik dan penuh renungan. Berdoa minta rezeki mungkin adalah kebiasaan, doa atau ritual yang lumrah dilakukan. Sah, sah saja untuk dilakukan ataupun diajarkan pada orang lain. Namun seperti tulisan di atas, kita kadang lupa berdoa atau berterima kasih pada hal yang lebih vital. salam

  2. Ismail Sunni
    June 24, 2015

    Sangat menarik om. Sudah sering mendengar “marilah mensyukuri nikmat udara, kesehatan, dan tralala” tapi baru sekali ini nemu penjabaran yang runtut dan mengajak berfikir.

  3. ikhwanalim
    June 24, 2015

    kamana wae?

  4. S™J
    June 24, 2015

    Akhirnyaaa ada yg nulis ini… *tersedu-terharu*

  5. anam
    June 25, 2015

    Halo Galihh…. :))

  6. 37degree
    June 30, 2015

    Reblogged this on 37degree and commented:
    Bahasanya beuraaat tapi garing tapi berisi dan pastinya menyadarkan diri.

    Ijin reblog🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 23, 2015 by in Review and tagged , , , .
%d bloggers like this: