Usual Storyline

oeuvre

Penyintas Spiritual

Model superioritas relatif spesies kita dibandingkan dengan Hominid atau Primata lain, bukan hanya pada kapasitas intelijensia, untuk relatif lebih mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan, karena Homo neanderthal atau Homo denisovan pun mampu untuk melakukannya, secara individual. Namun, H. neanderthal, dengan ukuran otak dan badan yang relatif lebih besar ( setidaknya dari temuan fosil), belum memiliki kapasitas lain yang dimiliki oleh H. sapiens untuk beradaptasi dan bertahan hidup dalam perubahan lingkungan, yaitu kooperasi ( kerja sama terkoordinasi).

Kooperasi memang tak punya artefak, seperti halnya kapasitas otak yang bisa dikonjungsi dari ukuran tempurung tengkorak. Maka kemampuan kooperasi yang lebih efektif oleh H. sapiens, dibandingkan dengan Hominid lain, ditunjang oleh kapasitas pendahuluan, yaitu kapasitas linguistik. Linguistik ( bahasa) memungkinkan spesies pendahulu kita untuk melakukan definisi diri individual ( subjek) dan lingkungan sekitar ( objek), berikut melakukan langkah lanjutan, yaitu koordinasi dengan subjek yang memiliki kesamaan bahasa.

Sapiens_neanderthal_comparison_en_blackbackground

Homo sapiens versus Homo neanderthalensis

Model kooperasi ini yang memungkinkan spesies kita, H. sapiens, pada awalnya untuk mampu mengungguli Hominid lain, dalam hal perburuan binatang non manusia untuk dijadikan santapan. Berikutnya adalah potensi kemenangan yang lebih besar, ketika terjadi pertarungan antar kelompok Hominid, dan ada memang hipotesis yang menggagas bahwa kepunahan Hominid lain adalah karena genosida oleh spesies kita. Namun hipotesis lain yang bisa jadi peluang benar adalah, terjadi perkawinan silang antara H.sapiens dengan H. neanderthal atau H. denisovan, dan mungkin spesies lain, tetapi keturunan mereka cenderung infertil, atau fertilitasnya ( kesuburannya) berkurang. Karena memang ada jejak MtDNA H. neanderthal dan H. denisovan dalam manusia modern ( H. sapiens).

H. sapiens yang awalnya berburu individual, lalu berkembang menjadi kelompok untuk mendapat hasil buruan yang lebih optimal. Berikutnya, kelompok pemburu ini beralih menjadi keluarga besar perkebunan ( agrikultur), yang menegaskan kembali evolusi sosial hasil dari kemampuan kooperasi interspesies. Peradaban manusia dengan sistem yang lebih kompleks dimulai ketika manusia mulai menjalankan metode agrikultur sedenter untuk bertahan hidup berkelompok, dan meninggalkan model pemburu nomaden, yang resikonya tak sebanding dengan hasil buruan.

Dalam rangka menjaga kedamaian dan kooperasi antar anggota kelompok, manusia mengembangkan aturan yang menentukan boleh tidaknya sebuah tindakan dijalankan, dari model tata aturan kelompok inilah, muncul potensi berkembangnya reliji ( agama) kelompok. Setiap kelompok manusia pasti memiliki tata aturan yang fungsinya menjaga keharmonisan interaksi, berikut menyelesaikan setiap konflik horizontal.

Reliji memang berfungsi untuk menjaga kedamaian dalam kelompok, namun berpotensi memicu pertarungan antar kelompok H. sapiens juga. Perbedaan tata aturan akan membangun budaya yang potensial berbenturan, dan disinilah perang antar kelompok suku H. sapiens dimulai. Budaya perang antar kelompok suku sejak awal era manusia berkebun, ternyata masih dilanjutkan hingga abad ke- 21, terutama pada populasi manusia yang belum mengenal sistem tata kelola kelompok besar bernama ” Negara”.

Konstruksi tata kelola kelompok suku, yang optimal anggotanya di angka seribuan, membutuhkan sistem reliji sederhana, berupa aturan oral berikut konsep ketuhanan yang tak perlu singular, yang penting memahami bahwa ada kesadaran lebih tinggi dan superior di luar manusia. Namun, untuk menjaga keharmonisan kooperatif antar kelompok suku manusia, dan menyatukannya dalam satu ” Negara”, dengan populasi bisa di atas ratusan ribu manusia, maka dibutuhkan keseragaman aturan main, disinilah mulai lahir reliji yang lebih sederhana konsep ketuhanannya, lebih fleksibel aturannya, sehingga akomodatif menampung suku- suku yang sebelumnya beda konsep ketuhanan.

Ketika penyatuan kelompok- kelompok kecil suku terjadi, maka butuh penyatuan tata aturan hukum, dan terjadi perubahan model komunikasi aturan, dari yang semula oral menjadi literal, dari yang berupa konteks menjadi teks, lahir bersamaan dengan kapasitas H. sapiens berikutnya, yaitu komunikasi literal.

Reliji dan negara memang sebenarnya adalah entitas yang sama, diakui atau tidak ya terserah. Saat H. sapiens yang hidup berkelompok dalam satuan ratusan atau seribuan, mulai merasa perlu untuk membentuk gabungan antar kelompok, demi menjaga stabilitas suplai makanan dan pasangan kawin, maka disinilah manusia mulai membuat aturan literal, yang menetapkan boleh tidak bolehnya sebuah tindakan, di momen semacam inilah mulai lahir yang disebut reliji ( agama), atau lahirlah negara.

Kenapa aturan teks literal? Apakah aturan oral tidak cukup? Aturan teks literal memiliki kelebihan menjangkau jumlah manusia dengan populasi ratusan ribu, sampai jutaan, karena kemampuan reproduktifnya. Lebih mudah mendistribusikan pengetahuan dengan model teks, daripada oral, dimana manusia cenderung untuk tidak bisa lepas dari bias. Aturan teks literal akan meminimalkan bias pemahaman, dan mudah untuk didistribusikan, sehingga memungkinkan untuk menjaga kesepahaman ratusan ribu sampai jutaan manusia dalam populasi negara.

Reliji yang berkembang menjadi negara modern sekarang ini, yang awalnya didahului negara kerajaan dengan model kekuasaan konsentris penguasa, selalu berevolusi secara sosial, beradaptasi dengan perubahan lingkungan, walaupun memang sangatlah lamban. Jika awalnya embrio reliji adalah untuk menjaga keharmonisan antar populasi manusia, maka setelah stabilitas terbentuk, reliji juga dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan sebagian kecil manusia, atas mayoritas manusia lain.

Kejenuhan sosial bisa terjadi dalam 2 sampai 4 generasi, sekitar 100 sampai 200 tahun usia sebuah institusi reliji atau negara. Ketika aturan- aturan dalam reliji tak mampu mengakomodasi perubahan ekosistem manusia, maka disitulah lahir bibit- bibit perubahan internal, yang modelnya sangat beragam, dari perang besar sampai kepunahan massal.

Kejenuhan sistem sosial mulai nampak ketika aturan- aturan teks literal digunakan oleh sebagian kecil manusia, untuk memanipulasi mayoritas manusia yang lain, sehingga menciptakan ketidakseimbangan, di sinilah reliji atau negara mulai dikorupsi oleh manusia yang duduk sebagai penguasa. Dalam proses kejenuhan ini, maka ada beberapa manusia spiritual yang muncul untuk mengawal transisi budaya populasi manusia.

Reliji lahir ketika manusia mulai menggunakan bahasa teks literal untuk menerapkan hukum interaksi, memiliki jumlah pengikut sistem yang signifikan, punya struktur kepemimpinan, punya pasukan garis keras, dan ada konsekuensi jika keluar dari populasi tersebut. Semakin besar jumlah pengikut dan area habitat jangkauan, maka semakin fleksibel pula sebuah sistem reliji, begitu sebaliknya.

Dalam setiap populasi H. sapiens selalu ada kontestasi meme ( ide), yang merupakan konsekuensi logis dari kemampuan linguistik kita. Kecerdasan manusia mampu memainkan kosakata untuk menyetir logika manusia di sebelahnya, dan bisa diarahkan untuk memicu kebutuhan koalisi atau konflik. Bahasa adalah kunci untuk menjaga stabilitas populasi, dan juga memicu kericuhan massal. Kontrol regulasi dalam sistem reliji atau negara juga menggunakan linguistik, untuk menentukan boleh tidaknya tindakan.

Logika kerumunan manusia potensial untuk dikendalikan lewat pemilihan kosakata linguistik, atau dominasi informasi. Maka logika kerumunan tidak sama dengan logika personal, ketika manusia berdiam diri menjauh dari kerumunan, dan berusaha mengumpulkan informasi tanpa ada gangguan kontestasi meme ( ide) manusia lain.

avicenna-ibn-sina

Ibn Sina

Para manusia penyendiri yang gemar mengamati dan melangkah berbeda dari kerumunan inilah, yang seringkali mampu menantang dominasi reliji dan negara, sebut sajalah mereka ini manusia- manusia spiritualis. Para spiritualis ini menjauh dari kerumunan manusia, sesekali untuk mengumpulkan data interaksi antar manusia, interaksi manusia dengan binatang, dengan tumbuhan, dan pemodelan ekosistem di luar manusia, mereka adalah manusia- manusia yang gemar membaca pola semesta.

Menghindarkan diri dari logika kerumunan manusia yang riuh rendah dengan kontestasi meme untuk saling mendominasi, adalah metode paling jamak bagi mereka manusia spiritualis. Manusia spiritualis paham bahwa kemampuan linguistik manusia membantu kita mendefinisikan objek, memudahkan kooperasi dan koordinasi, tapi di sisi lain, kapasitas linguistik juga menjadi titik poin manipulasi destruktif, serta alat untuk kendali kerumunan manusia, demi kepentingan sebagian kecil manusia lain, yang entah apa agendanya.

Kejenuhan sosial populasi manusia adalah titik awal dari transisi menuju sesuatu yang lebih baru, dan biasanya ada manusia- manusia spiritualis yang memancing transisi itu. Mereka yang melemparkan meme ke populasi, agar mampu menggunakan logikanya lebih sehat, dan membangun sistem yang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Seringkali ada manusia spiritualis yang melawan arus, dan tewas terbunuh oleh kerumunan yang lebih besar kekuatan dan jumlahnya. Tapi, ada juga manusia- manusia spiritualis yang bisa menunggangi sistem, bahkan bergerak menyetir kerumunan tanpa membuat kerumunan merasa terpaksa untuk melakukannya.

Lalu, dari mana sebenarnya manusia mendapatkan meme ( ide)? Apakah murni hasil dari pengamatan terhadap semesta dan menyimpulkan dengan kosakata? Apakah hasil dari transfer manusia lain di sekitarnya? Keduanya saling melengkapi, karena H. sapiens memiliki kapasitas logika deduktif dan induktif yang harus dipertemukan, agar lengkap datanya.

Jika pada awalnya H. sapiens beralih dari pemburu ke bertani adalah untuk mencukupi kebutuhan pangan demi bertahan hidup yang lebih mudah, dan lalu manusia berkembang beranak pinak membentuk kelompok- kelompok kecil, hingga reliji dihadirkan sebagai solusi untuk menghindarkan peperangan antar kelompok, menjadi kesatuan negara atau reliji dengan regulasi teks literal, maka ada pula saatnya kejenuhan sosial muncul.

Reliji yang jenuh dimulai saat sebagian kecil manusia yang memegang aturan utama mulai menggunakan linguistik, untuk memanipulasi kerumunan manusia mayoritas. Kontestasi meme ( ide) mulai tidak seimbang, dan peperangan antar kelompok- kelompok manusia dimulai lagi.

Maka menjelang masa kejenuhan sosial semacam yang sering dinarasikan oleh teks- teks tentang populasi manusia, muncul ide- ide ( meme) baru yang menyegarkan dan menyetir kerumunan manusia untuk kembali membangun peradaban populasi yang lebih baru, dan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Lalu, kenapa perubahan lingkungan? Ya, karena sebenarnya kejenuhan sosial terjadi bukan murni ulah manusia, tetapi karena sebab eksternal yang lebih berpengaruh, biasanya adalah perubahan ekosistem di luar manusia. Populasi manusia punah dalam jumlah besar seringkali terjadi karena wabah penyakit ( epidemi), gunung meletus, tsunami, perubahan komposisi oksigen di atmosfer, pergeseran cadangan air tawar permukaan, dan sebab- sebab lain di luar kendali manusia. Kematian yang disebabkan oleh pertempuran antar kelompok manusia, jumlahnya belum sebesar kematian karena wabah penyakit dan bencana alam.

Sejarah peradaban populasi H. sapiens yang ditulis oleh H. sapiens  sendiri, atau sejarah manusia yang dibuat oleh manusia sendiri seringkali menggelorakan bahwa pembunuhan massal terjadi saat perang antar manusia, sebuah persepsi bias yang sangat antroposentris, manusia- sentris, seolah- olah manusia terlalu kuat untuk “berbuat kerusakan” di Planet Bumi.

Sebenarnya, sejarah H. sapiens sudah tercatat di genealogi DNA di dalam tubuh kita, di lapisan bumi ( geosfer), di lapisan udara ( atmosfer), semua jejak sejarah alam terdokumentasi dengan sangat baik, dan sebaiknya H. sapiens memang berkeinginan untuk mau dan mampu membaca sejarah yang bukan bikinan manusia, setidaknya lebih obyektif lah.

Manusia- manusia spiritualis yang enggan disibukkan dengan kontestasi meme di kerumunan manusia, dan terfokus membaca tanda alam ini, yang seringkali pertama kali mampu mendeteksi bakal ada perubahan masif pada alam. Langkah mereka untuk mengingatkan sesama spesiesnya, itu yang seringkali menghindarkan manusia dari kepunahan masif.

Kerumunan populasi H. sapiens memang cenderung untuk mengalami bias perspektif dan sesat logika, karena memang begitulah pola interaksi antar subyek yang sama. Pola interaksi yang senantiasa obyektif akan membuat interaksi tanpa drama, dan rata- rata manusia tidak senang dengan interaksi obyektif. Sudah kecenderungan manusia ketika bertahan hidup dalam populasi sesama spesiesnya, untuk larut dalam bias.

Lalu, apakah manusia- manusia spiritualis itu adalah para Rasul, Nabi, manusia- manusia berilmu luas, yang namanya sering disebutkan oleh institusi- institusi reliji berpengikut besar? Ya, bisa jadi, besar kemungkinan itulah mereka. Tetapi akan selalu muncul para penyintas spiritual yang sekedar mengingatkan sesama Homo sapiens, untuk sekedar menjadi manusia saja, dan menjadi manusia adalah pencapaian paling sederhana yang tidak pernah mudah.

Catatan:

Penyintas: Survivor, orang yang selamat dari bencana, perang, atau peristiwa yang mengancam nyawanya

6 comments on “Penyintas Spiritual

  1. batinlinda
    September 11, 2015

    Tulisan yang sangat menarik! Sepertinya saya butuh satu kali lagi baca artikel ini untuk bisa mengupas tuntas apa yg ingin disampaikan. Cukup padat dan singkat untuk ditumpahkan hanya dalam satu halaman blog. Topik yang banyak diangkat oleh seorang spiritulias sendiri🙂

    Saya pernah baca ulasan yang diutarakan oleh Hamka (kalau saya tidak salah ingat) bahwa bisa jadi perunut/pencari kebenaran seperti Confucius (Tn. Kong, yg pengikutnya beraliran Kong Hu Cu) dan Plato adalah seorang nabi. Atau pada masa sekarang ini pada kasus Darwin dan Alfred Russel Wallace yang penemuannya menjadi kontroversi di area kepentingan.

    Ignorance is the artificer. Tetapi tidak cukup hanya dengan kekuatan satu orang ignorance, karenanya diperlukan tool berupa Meme untuk menghasilkan satu teknologi baru yang sesuai dengan peradapan dizamannya, hasil dari pemikiran (cultural evolution).
    Sharing satu video menarik: https://www.youtube.com/watch?v=AZX6awZq5Z0

    • Maximillian
      September 11, 2015

      Lin, mau koleksi bukunya Jared Diamond ga? Tulisan di atas mengekstrak paparan Jared. Kalau mau, dikirim email.

      • batinlinda
        September 11, 2015

        Seriusan dari jared diamond?! Aku ga nyangka ternyata banyak sisi yg ga dibuka di film dokumenternya….asik, mauuuuu bukunya dong!!! Hoho…

      • Maximillian
        September 11, 2015

        Ada 4 bukunya, saling melengkapi. Sebenarnya bukan soal konten yg disampaikan, tapi soal metode Jared yg berani berpikir lalu melakukan konfirmasi lapangan sampai ke peradaban tribal, itu yg bikin kejutan secara pengetahuan. Jared kan fisiolog ahli ginjal, yg juga antropolog dan ornitolog, nah koneksi antar disiplin itu yg sedap banget😀

      • batinlinda
        September 11, 2015

        Hemm….berfilsafat di ranah cultural dan scientific fact memang bisa bikin cerebral orgasm

  2. Maximillian
    September 11, 2015

    Banget, setengah waras pokoknya…Dijamin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 7, 2015 by in Review and tagged , , , , .
%d bloggers like this: