Usual Storyline

oeuvre

Fragmen J

J ini sosok introvert dengan kapasitas personal yang mumpuni, tak butuh validasi subjek lain, tapi selalu mampu membereskan perkara, masalah, dan kejuaraan dengan baik, namun anehnya tak mengapresiasi pujian apalagi mengejar perhatian. Egonya terlalu rendah untuk bersedia berebut harga diri yang tinggi, di hadapan publik.

Publik pada sisi lain adalah kumpulan subjek yang butuh penghargaan diri, seringkali tanpa fungsionalitas, karena itulah pelumas relasi mutualis dalam relasi sosial, antar manusia. Beberapa kasus friksi yang melibatkan J, lahir dari ketidakpahamannya, bahwa manusia butuh dimenangkan lewat pembandingan, bahwa juara 1 ada karena juara 2 dikalahkan, bahwa kemenangan itu harus ada yang kalah, bahwa pahlawan butuh penjahat. Hal yang tidak dipahami J, publik itu dikondisikan untuk menjadi ekstrovert, butuh validasi pembanding, agar diakukan, diakui, supaya menjadi ada.

Kehadiran subjek J, seringkali menimbulkan ancaman eksistensi, bagi subjek lain yang merasa tersaingi, walaupun J tidak sadar. Kondisi ini memicu subjek yang terancam untuk mengambil langkah agresif, menyerang J terlebih dahulu. J yang tidak mengerti sering bingung, marah, dan konfrontatif untuk merespon balik. J yang tak mengerti menjadi introvert yang reklusif, merasa tak butuh kerumunan, karena selalu kehadirannya dipermasalahkan. Introvert bukan antisosial, hanya tak butuh validasi atau apresiasi, tapi bukan berarti diam dengan agresi, yang memicu upaya diri J untuk bela diri.

Sikap reklusif yang dipilih J ini untuk mencari jawaban atas kebingungannya, kenapa dirinya yang tak butuh validasi dan apresiasi malah kerap jadi target agresi? Kenapa ada subjek yang terancam dengan eksistensinya? Reklusif adalah menghindari publik, atau tetap di kerumunan publik hanya dengan tetap jaga jarak aman, agar pengamatannya tetap seobjektif mungkin, dan tidak mengurangi kejernihan proses pengambilan keputusan internal.

Dalam pertapaan pribadi, dengan mengumpulkan sampel perilaku manusia, konflik yang terjadi, rekonsiliasi yang dijalani, mengumpulkan data sekunder dan referensi akademik yang cukup, J mengambil hipotesis fundamental; Bahwa semua manusia sebenarnya bias, dan interaksi terjadi karena ada irisan kebutuhan, walaupun sesat logika ( fallacy) sering terjadi, tapi insting sosial manusia sebenarnya jauh lebih dominan, demi kebutuhan untuk bertahan hidup ( survival).

images.jpg

Rogue Trooper

J menemukan bias fundamental yang memicu sesat logika mendasar; Ad hominem, ad populum, autoriatem, ad baculum, strawman, red herring, adalah hal yang manusiawi, cuma spesies kita yang mampu membuat kesesatan itu, karena logika manusia bersanding dengan insting binatang. Badan organik manusia sama dengan binatang lain, protein juga penyusunnya.

J mulai mampu menerima kenyataan relasi antar manusia, dan berdamai dengan kesesatan logika, berikut konsekuensinya. J yang jawa, dibesarkan dalam budaya jawa pegunungan, mulai memahami filosofi klasik jawa, “ Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, digdaya tanpa aji ( Berperang tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan yang kalah, berkuasa tanpa perlu kesaktian)”.

J pelan- pelan memasuki nuansa spiritualitas hakikat, yang dulu dia tak pahami sama sekali, karena semantiknya yang kontradiktif, serasa paradoks. Kontradiktif dan paradoks karena perspektif manusia yang bias, itu jawaban yang didapat J.

J menjalin relasi dengan subjek- subjek introvert yang mengalami sensasi mirip; Berkemampuan tinggi, namun menjadi target agresi, dan bereaksi namun tidak bersedia terjun ke kompetisi ego. Sensasi yang menyakitkan, membingungkan, dan memuakkan, yang seringkali memicu subjek untuk sinis dengan sosok manusia. Jebakan- jebakan interaksi yang mendorong untuk memperjuangkan ego, dan hasil akhirnya jauh dari diri yang sebenarnya. Memenangkan pertempuran palsu, prestasi tinggi yang kosong makna, dan hidup dalam imajinasi semu, imajinasi yang lahir dari pembandingan bias.

J yang terlibat dalam perdagangan internasional dan instrumen keuangan, mulai pelan mengobati luka batin, sambil menjalin relasi dengan konstelasi global. J menemukan sosok- sosok penguasa palsu, pemimpin publik boneka, jenderal pion, yang sebenarnya dikendalikan oleh manusia- manusia introvert- reklusif, dengan tetap memelihara kepalsuan interaksi. Permainan yang nyata ini tak akan pernah mampu dilihat oleh subjek yang sibuk mengejar eksistensi diri, memuaskan ego, dan mengejar kemenangan palsu.

Saat ini J menjalani hidup dengan prinsip tidak merasa memiliki, tidak menghakimi, tidak menuntut, dan tidak mengeluh. Prinsip yang menantang untuk kehidupan manusia yang ramai dengan perebutan kepemilikan aset, perlombaan akurasi untuk menghakimi, keberanian untuk menuntut hak, dan keluhan sebagai ekspresi kemanusiaan.

J berusaha berdamai dengan ambiguitas, kontradiksi, dan paradoks realitas, yang ketidaksabaran atasnya seringkali memicu sesat logika, hasil dari bias bawaan yang mungkin tak pernah disadari oleh manusia, sampai mati sekalipun. Semoga J mampu mengobati batin- batin subjek lain yang terluka, sinis dengan manusia, dan memelihara kepalsuan untuk menjaga kondisi.

Selamat menjalani kehidupan untuk menyongsong kematian, J.

2 comments on “Fragmen J

  1. Dipa Nugraha
    July 5, 2016

    Jwk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 4, 2016 by in Philosophy, Review and tagged .
%d bloggers like this: