Usual Storyline

oeuvre

Merasa Baik

” Merasa baik itu tidak baik”, Sebuah nasehat pendek yang tajam dan membekas dari Guru M. Obsesi untuk mendapatkan label baik, atau berbuat baik, seringkali tak mampu membendung realitas yang ambigu, bahwa baik dan brengsek itu relasinya antagonistik, bukan sinergis. Bahwa baik itu tidak perlu dibahasakan, sedang brengsek itu harus diadakan, dirayakan, jika perlu dikenang secara monumental. Merasa diri baik sebenarnya adalah kebrengsekan tertinggi, karena kebaikan tak butuh dibahasakan, apalagi dimonumenkan.

Relasi mutualisme antar manusia itu adalah kebutuhan, bukan kebaikan. Reaksi memberi pertolongan juga sama sekali bukan pernyataan piutang, yang perlu dibayar budi. Budi baik bukan pernyataan hutang- piutang, itu murni lahir dari kebutuhan mendasar. Kebutuhan apa? Kebutuhan dasar bertahan hidup, secara individu atau sosial.

Manusia lahir berbeda dengan spesies mamalia lain, yang langsung bisa mampu berdiri, berjalan, berlari, bahkan berusaha terbang. Manusia lahir dalam kepayahan yang sangat, dengan badan lemah, dan butuh pertolongan dari manusia dewasa. Manusia renta juga mengalami degenerasi metabolisme, fisik melemah, dan butuh bantuan manusia yang lebih muda, untuk bertahan hidup.

Relasi mutualisme itu bukan hutang- piutang, karena secara organik biologis, manusia harus saling bantu sesama spesiesnya, jika tak ingin punah dari ekosistem Bumi. Jadi saling tolong antar manusia bukanlah kebaikan, karena itu murni kebutuhan hidup, dan aksi kebaikan tak perlu dibahasakan, dirasakan, apalagi dimonumenkan, hingga timbul obsesi dipatungmarmerkan jasa- jasanya, menjadi simbolisme yang heroik, sekaligus sublim dan absurd.

Jika merasa baik itu tidak baik, lalu apa balasan untuk berbuat tidak brengsek, menghindari kebrengsekan, mencegah perbuatan brengsek, dan memberi pelajaran manusia brengsek? Bukankah pemuka agama selalu menjual kenikmatan surgawi untuk manusia yang berbuat ketidakbrengsekan? Bahwa semua pasti ada balasan?

Keikhlasan memang berat, dan akan teralami saat manusia yang merasa berbuat baik menjadi target kebrengsekan manusia lain, yang sudah dia perbaiki. Relasi manusia itu bias, bias kepentingan pribadi dan kebutuhan untuk hidup jangka panjang dalam masyarakat manusia.

Sensasi dan persepsi ketidakadilan akan selalu lahir dalam relasi masyarakat manusia, karena sedari awal selalu didogmakan bahwa baik dan brengsek ada balasannya, padahal itu konteksnya tak mungkin bisa diharapkan dari manusia.

Tidak ada manusia yang bebas dari bias, karena sejak awal manusia hàrus memilih untuk percaya pada sensasi instingtif organ sensorik, dan persepsi logis bentukan bahasa. Ketidaksabaran dengan realitas yang ambigu, yang mendorong manusia untuk bias. Bias yang berinteraksi dalam relasi kompleks masyarakat manusia, itu yang bikin kehidupan jadi penuh warna, gelap terang sesuai realitas yang dialami.

Merasa baik itu tidak baik. Merasa diri berbuat baik itu jauh dari keikhlasan. Keikhlasan tak bisa dibahasakan. Jadi berbuat saja, dan rasakan kehampaan yang tak bisa dibahasakan. Apakah kehampaan itu keikhlasan? Entahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 11, 2016 by in Review.
%d bloggers like this: